Menguat Tajam! Rupiah Bisa ke Bawah Rp 14.400/US$?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
30 July 2021 09:25
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) sudah jatuh tertimpa tangga, indeksnya pun semakin merosot hingga menyentuh level terendah satu bulan. Alhasil rupiah mampu menguat tajam pada perdagangan Jumat (30/7/2021), bahkan tidak menutup kemungkinan ke bawah Rp 14.400/US$.

Melansir data Refinitiv, begitu bel perdagangan berbunyi rupiah langsung melesat 0,41% ke Rp 14.420/US$. Setelahnya, rupiah mengalami koreksi hingga penguatannya tersisa 0,24% di Rp 14.445/US$.

Buruknya kinerja dolar AS menjadi asalan utama rupiah perkasa pagi ini. Kemarin, indeks dolar AS kemarin ambrol 0,5% ke 91,864 yang merupakan level terendah sejak 28 Juni. Selain itu indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini sudah merosot dalam 4 hari beruntun.


Pemicunya belum adanya kejelasan kapan bank sentral AS (The Fed) akan melakukan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE), ditambah dengan rilis data produk domestik bruto (PDB) yang mengecewakan.

The Fed melihat perekonomian AS semakin kuat, tapi masih perlu melihat kemajuan substansial lebih lanjut, khususnya untuk pasar tenaga kerja dan inflasi, sebelum memulai tapering.

"Kami menggunakan pendekatan yang setransparan mungkin. Kita belum mencapai kemajuan substansial lebih lanjut," kata ketua The Fed, Jerome Powell, sebagaimana dikutip CNBC International, Kamis (29/7/2021).

Sementara itu untuk pasar tenaga kerja, Powell mengatakan masih perlu lebih kuat lagi, sebelum memulai tapering.

"Saya ingin melihat pasar tenaga kerja lebih kuat lagi dalam beberapa bulan ke depan sebelum memulai mengurangi QE yang saat ini senilai US$ 120 miliar per bulan," kata Powell.

Spekulasi tapering tidak akan dilakukan dalam waktu dekat semakin kuat setelah rilis data pertumbuhan ekonomi AS kemarin.

Departemen Perdagangan AS kemarin melaporkan PDB tumbuh 6,5% di kuartal II, sedikit lebih tinggi ketimbang kuartal sebelumnya 6,3%, tetapi jauh di bawah estimasi Dow Jones sebesar 8,4%.

Jika dolar AS sedang terpuruk, rupiah sebenarnya juga mendapat sentimen negatif dari penambahan kasus penyakit virus corona (Covid-19) di Indonesia yang masih tinggi.

Kemarin, jumlah kasus baru dilaporkan sebanyak 43.479 kasus. Di sisi lain, kasus Covi-19 di DKI Jakarta menunjukkan penurunan, kemarin tercatat ada 3.845 kasus baru, turun daru haru sebelumnya 5.525 kasus.

Selain itu, kasus aktif di Jakarta juga turun menjadi 27.477 kasus dari sebelumnya 35.084 kasus. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan Jawa Barat (127.345 kasus), Jawa Tengah (58.727 kasus) dan Jawa Timur (57.126 kasus).

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading