Saham Bank Jago All Time High Lagi, Berapa Cuan Jerry Ng dkk?

Market - Putra, CNBC Indonesia
28 July 2021 09:50
Patrick Walujo - Jerry Ng (CNBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia Harga saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa setelah melesat selama 4 hari beruntun.

Pada penutupan perdagangan Selasa (27/2/21) harga saham ARTO berhasil melesat 3,42% ke level harga Rp 17.400/unit dan menjadi level penutupan tertinggi sepanjang sejarah bank digital yang dikendalikan oleh bankir Jerry Ng-Patrick Walujo dan kawan-kawannya ini.

Transaksi juga tergolong ramai di angka Rp 460 miliar bahkan investor asing tercatat memborong saham ARTO sebanyak Rp 112 miliar.


Saat ini kapitalisasi pasar ARTO sudah mencapai Rp 241 triliun dan menjadikanya sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar kelima di bursa melampai kapitalisasi pasar PT Astra Internasional Tbk (ASII) yang berada di angka Rp 192 triliun.

Melesatnya harga saham Bank Jago tentu saja menambahkan pundi-pundi kekayaan para pemiliknya.

Siapa sajakah pemiliknya dan berapa kekayaannya ?

Per 30 Juni 2021, data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat bahwa saham ARTO mayoritas dikuasai oleh PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) yang merupakan kendaraan bisnis milik bankir kawakan Jerry Ng dan kawan-kawannya.

Tercatat MEI memegang 4,12 miliar saham bank eks Bank Artos Indonesia ini atau setara dengan 29,8% kepemilikan emiten bank digital ini. Di harga saat ini kepemilikan MEI di ARTO setara dengan Rp 71,86 triliun.

Selanjutnya pengendali ARTO lainya yakni Wealth Track Technology Limited yang merupakan kendaraan bisnis pendiri Northstar Group yakni Patrick Walujo-Glenn Sugita yang menguasai 11,68% saham ARTO atau sebanyak 1,61 miliar saham ARTO senilai Rp Rp 28,1 triliun.

Adapula Gojek yang merupakan bagian dari GoTo Group yang masuk melalui PT Dompet Karya Anak Bangsa alias GoPay yang masuk sebelum aksi korporasi rights issue dan kembali menambah kepemilikanya saat RI.

Saat ini tercatat Gojek memegang 21,4% saham ARTO atau sebanyak 2,96 miliar lembar saham setara dengan Rp 51,6 triliun.

Terakhir adapula lembaga investasi Sovereign Wealth Fund (SWF) asal Singapura GIC Private Limited yang memegang 9,11% saham ARTO sebanyak 1,26 juta lembar saham senilai Rp 21,9 triliun.

Sebelumnya, Jerry bersama kawan-kawannya mengakuisisi Bank Artos melalui MEI secara resmi pada 26 Desember 2019, seperti terungkap dalam keterbukaan informasi BEI.

MEI mengakuisisi 454,15 juta saham ARTO pada harga Rp 395/saham. Nilai akuisisi itu setara dengan Rp 179,39 miliar. Setelah akhirnya bank keluarga tersebut berganti nama menjadi Bank Jago pada Juni 2020.

Kemudian, pada April 2020, Bank Jago merampungkan pelaksanaan penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) ataurights issuedengan target dana mencapai Rp 1,34 triliun.MEI menambah jumlah kepemilikan saham di ARTO dengan membeli di harga Rp 139/saham.

Terbaru, pada akhir Maret lalu, MEI dan WTT, menambah kepemilikan saham perseroan tapi persentase kepemilikan menyusut atau terdilusi.

Dilusi terjadi akibat GIC dan Gojek yang masuk melalui PT Dompet Karya Anak Bangsa yang masuk dan menambah kepemilikan saham di putaran kedua rights issue tersebut.

Sekadar gambaran, Bank Jago adalah bank yang fokus sepenuhnya menjadi bank digital. Sebelumnya, bank ini didirikan di Bandung dengan nama Bank Artos. Kemudian, pada 2019, Bank Artos diakuisisi oleh WTT dan Jerry Ng melalui MEI dan bersalin nama menjadi Bank Jago.

Adapun ARTO mencatatkan saham perdana di BEI pada 12 Januari 2016 dengan harga IPO Rp 132 per saham.

Jerry Ng bukan nama baru, keduanya sudah malang melintang di industri keuangan nasional dan bahkan luar negeri.Jerry sebelumnya menakhodai BTPN sebagai direktur utama selama satu dekade dan berhasil melesatkan total aset bank ini menjadi 10 kali lipat

Namun, dia memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan kariernya di BTPN setelah bank tersebut merger dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia.

Pada 2003 lalu, Jerry juga pernah berkarier di PT Bank Danamon Indonesia Tbk(BDMN) namun hengkang pada September 2007.

Dia juga tercatat pernah bekerja di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan Grup Astra. Sejumlah jabatan penting pernah diembannya seperti Deputi Presiden Direktur di PT Bank Universal, Presiden Direktur di PT Federal International Finance (FIF), dan menjadi Komisaris di PT Astra Colonial Mutual Group Life.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading