BUMN Ini Garap Bandara Hang Nadim Batam, Bisa Cuan Rp 523 M

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
27 July 2021 17:50
Desain Bandara Hang Nadim Batam (Tangkapan Layar via instagram @nyoman_nuarta)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan konstruksi PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) bakal melaksanakan kegiatan manajemen infrastruktur bandara dan penunjangnya untuk Bandara Internasional Hang Nadim Batam, provinsi Kepulauan Riau.

Hal ini dilakukan setelah mendapatkan penunjukan dari panitia pengadaan proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) untuk bandara tersebut.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan perusahaan, masuknya perusahaan pada infrastruktur bandara ini setelah terbentuknya konsorsium antara Wika bersama dengan PT Angkasa Pura 1 (Persero) dan Incheon International Airport Corporation, asal Korea Selatan.


Konsorsium ini mendapatkan penunjukan untuk proyek KPBU tersebut dengan masa kelola bandara ini hingga 25 tahun.

Namun demikian, menurut ketentuan konsorsium tersebut diharuskan menjalankan kegiatan usaha di bidang kebandarudaraan. Untuk itu perusahaan perlu melakukan penyesuaian dengan melebarkan sayapnya pada penyelenggara kebandarudaraan dan investasi.

"Latar belakang perseroan berencana menjalankan kegiatan usaha di bidang kebandarudaraan dalam rangka pengembangan usahanya melihat potensi bandar udara memiliki fungsi sebagai akses perhubungan internasional yang pengelolaannya diharapkan dapat menambah portofolio proyek strategis bagi Perseroan," tulis keterangan perusahaan, Selasa (27/7/2021).

Dengan masuk ke bisnis ini, perusahaan berpotensi memperoleh omzet kontrak (OK) konstruksi atas hak rights to match dan mendapatkan pendapatan berulang (recurring income) selama masa kerja sama.

Selain itu, terdapat potensi aset recycling setelah Commercial Operation Date (COD) dengan nilai yang lebih besar dibanding price to book value. Perusahaan juga akan mendapatkan transfer knowledge dalam bisnis aviasi.

Sementara itu, net present value dari produksi dividen yang akan diterima dari konsorsium tersebut dengan kepemilikan 19% dalam konsorsium tersebut senilai Rp 523,27 miliar atau rata-rata Rp 158,66 miliar per tahun selama masa proyeksi 25 tahun.

Untuk itu, perusahaan akan meminta persetujuan pemegang saham untuk masuk ke lini bisnis baru dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis (2/9/2021) mendatang, berlokasi di Wika Tower.

Data BEI mencatat, saham WIKA ditutup minus 1,01% di Rp 985/saham, dengan koreksi 3 bulan terakhir mencapai 30%. Year to date saham WIKA masih anjlok 50% dengan kapitalisasi pasar Rp 8,8 triliun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Utang Bengkak Jadi Rp 26 T, WIKA Bakal Lego Aset Lagi


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading