Balada Harga Batu Bara, Anjlok Setelah Cetak Rekor Tertinggi!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
25 July 2021 15:20
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali mencetak rekor tertinggi sejak tahun 2008 di pekan ini. Tetapi sayangnya gagal mempertahankan momentum penguatan dan berbalik anjlok. Memburuknya outlook perekonomian global, serta harga batu bara yang mencetak rekor tentunya memicu aksi ambil untung (profit taking) yang membuat harganya berbalik arah.

Melansir data Refinitiv, sepanjang pekan ini batu bara Ice Newcastle kontrak dua bulan ke depan, yang paling aktif diperdagangkan, harganya anjlok 2,8% ke US$ 146,75/ton. Rekor tertinggi sejak 2008 dicatat pada, Selasa (20/7/2021), di US$ 154,5/ton. Setelah mencapai rekor tersebut, harga batu bara terus mengalami penurunan.


idrFoto: Data wrapper

Kinerja negatif di pekan sini sekaligus mengakhiri penguatan empat pekan beruntun. Sepanjang pekan ini, batu bara mencatat kinerja yang luar biasa cemerlang, melesat nyaris 80%. Dengan kenaikan tersebut CPO menjadi salah satu komoditas dengan kinerja terbaik di 2021.

Kenaikan tajam tersebut tentunya menggiurkan pelaku pasar untuk mencairkan cuan.

Reli harga batu bara akhir-akhir ini disebabkan oleh peningkatan permintaan, terutama untuk pembangkit listrik. Konsumsi listrik di berbagai negara meningkat seiring aktivitas masyarakat yang kembali normal selepas turun drastis akibat pandemi Covid-19.

Konsumsi listrik di China pada 14 Juli 2021 mencapai 27,2 TWh, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Di sejumlah daerah, penggunaan listrik meningkat untuk penyejuk udara karena China sedang dilanda gelombang panas (heatwave).

"Kenaikan harga batu bara utamanya di dorong tingginya permintaan dari China. Konsumen China rela membeli dengan harga mahal untuk mengamankan pasokan" kata Dmitry Popov, analis batu bara di perusahaan konsultan CRU, sebagaimana dilansir Financial Times, Jumat (23/7/2021).

Peningkatan konsumsi listrik itu belum dibarengi oleh produksi batu bara dalam negeri. Bulan lalu, produksi batu bara Negeri Tirai Bambu adalah 323,2 juta ton, merosot 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Dibandingkan Juni 2019, sebelum pandemi Covid, produksi turun 6,1%.

Tidak hanya China, peningkatan konsumsi listrik juga diprediksi terjadi secara global di tahun ini. International Energy Agency (IEA) memperkirakan setelah mengalami penurunan 1% di 2020, konsumsi listrik diperkirakan meningkat 5% di tahun ini. Kemudian tahun depan naik lagi 4%.

Agensi yang berbasis di Paris tersebut juga memproyeksikan pembangkit listrik tenaga batu bara di tahun ini akan naik 5%, melewati level prapandemi, dan di tahun 2022 akan naik lagi sebesar 3%.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading