Rupiah Sepekan: Maaf, Cuma Perkasa Sehari Saja!

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
24 July 2021 12:59
Ilustrasi Rupiah dan dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Walaupun hanya menguat sehari saja, namun rupiah masih mencetak kenaikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini.

Pada pekan ini, rupiah hanya menguat tipis 0,03% ke posisi 14.490,00 secara point-to-point. Penguatan rupiah pada pekan ini cenderung menurun dibandingkan dengan penguatan pada pekan sebelumnya.


Dalam harian, rupiah hanya menguat pada perdagangan Kamis (22/7/2021), yakni menguat 0,41%, sedangkan sisanya terpantau tak kuat melawan sang greenback (dolar AS).

Rupiah mengalami tekanan akibat lonjakan kasus penyakit virus corona (Covid-19) di Indonesia, sementara itu dolar AS kini menanti pengumuman kebijakan moneter bank sentralnya (Federal Reserve/The Fed).

Pada Kamis (22/7/2021), setelah pasar dalam negeri ditutup, Kementerian Kesehatan melaporkan kasus baru pada bertambah 49.509 pasien, naik dari hari sebelumnya sebanyak 33.772 orang, yang merupakan yang terendah sejak 6 Juli.

Jika PPKM level 3 dan 4 batal dilonggarkan, tentunya menjadi kabar buruk, perekonomian Indonesia berisiko merosot lagi. Apalagi Bank Indonesia (BI) kemarin saat mengumumkan kebijakan moneter memangkas proyeksi produk domestik bruto (PDB) tahun ini.

BI memproyeksi PDB RI akan berada dikisaran 3,5%-4,3% lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 4,1-5,1%.

BI kemarin juga mengumumkan mempertahankan 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5%. Suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility juga bertahan masing-masing 2,75% dan 4,25%.

Kali terakhir BI menurunkan suku bunga acuan adalah pada Februari 2021. Selepas itu, suku bunga selalu ditahan dengan stabilitas nilai tukar rupiah menjadi alasan utama.

"Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan sistem keuangan karena ketidakpastian di pasar keuangan global di tengah prakiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dari dampak Covid-19," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam jumpa pers usai RDG.

Walaupun begitu, dolar AS pada pekan ini sebenarnya tak sedang kuat-kuatnya, sebabnya perekonomian Paman Sam terlihat mulai mengendur.

Kasus Covid-19 juga mengalami peningkatan dan dampaknya sudah mulai terlihat di pasar tenaga kerja.

Pada Kamis lalu, data klaim tunjangan pengangguran mingguan dilaporkan sebanyak 419.000, jauh lebih tinggi dari hasil polling Reuters terhadap para ekonom yang memperkirakan sebanyak 350.000 klaim. Selain itu, rilis tersebut merupakan yang tertinggi sejak pertengahan Mei lalu.

"Data tersebut menunjukkan bukti adanya pelambatan ekonomi," kata Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Cambridge Global Payments, sebagaimana dilansir CNBC International, Kamis (22/7/2021).

"Rilis data tersebut selalu lebih tinggi dari perkiraan, menunjukkan pasar tenaga kerja AS kehilangan momentum. Hal tersebut dapat membuat The Fed (bank sentral AS) memundurkan lagi rencana pengetatan moneter, dan yield obligasi akan menurun," tambahnya.

Dalam pengumuman kebijakan moneter Juni lalu, The Fed memberikan proyeksi terbaru suku bunga akan naik di tahun 2023, bahkan tidak menutup kemungkinan di tahun depan. Lebih cepat dari sebelumnya yang memproyeksikan kenaikan suku bunga di tahun 2024.

Meski demikian, dengan kondisi perekonomian saat ini, mulai muncul keraguan The Fed akan menaikkan suku bunga tahun depan.

The Fed akan mengadakan rapat kebijakan moneter pada pekan depan, yang akan menjadi perhatian pelaku pasar. Bahkan sudah diantisipasi sejak saat ini.

Bagaimana pandangan terbaru The Fed terhadap kondisi ekonomi di tengah lonjakan kasus Covid-19, serta apakah masih ada peluang tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) dilakukan di tahun ini akan menjadi perhatian pelaku pasar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading