Utang Jatuh Temponya Rp 712 M, Bagaimana APLN Bayarnya?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
23 July 2021 10:55
senayan city

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengembang properti PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menyebutkan hingga Juni 2021 perusahaan memiliki total utang yang akan jatuh tempo dalam waktu kurang dariĀ 1 tahun mencapai Rp 712,35 miliar.

Utang ini terdiri dari utang bank dan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN).

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI), utang tersebut merupakan kredit yang digunakan untuk penyelesaian sejumlah proyek milik perusahaan. Penyelesaian utang bank ini ditargetkan akan dapat dibayarkan menggunakan dana operasional perusahaan.


Sedangkan untuk MTN, saat ini sedang dalam proses untuk perpanjangan jangka waktu jatuh tempo. MTN ini menurut jadwal akan jatuh tempo pada 22 Agustus 2021 mendatang.

"Dikarenakan penawaran MTN ini berupa private placement, dan telah ada kesepakatan bersama antara penerbit dan calon pemegang MTN sehubungan perpanjangan jangka waktu MTN, serta saat ini dalam tahap proses untuk memenuhi persyaratan administrasi dan dokumen-dokumen legal, maka kami meyakini MTN dimaksud dapat diperpanjang," kata Justini Omas, Sekretaris Perusahaan APLN, dikutip Jumat (23/7/2021).

Untuk memperbaiki likuiditas, saat ini perusahaan dalam proses untuk melakukan penjualan aset yang dimiliki oleh anak usahanya, PT Buana Makmur Indah (BMI). Penjualan aset ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesepakatan perusahaan.

Selain aset berupa bidang tanah, perusahaan juga kan melakukan penjualan kepemilikan saham BMI dalam PT Trans Heksa Karawang sebanyak 7,13 juta atau 6,56%.

"Rencana transaksi akan memiliki dampak positif atas kegiatan operasional dan kondisi finansial, terutama likuiditas perusahaan," tulis manajemen perusahaan dalam keterbukaan informasinya mengenai penjualan aset ini.

Saat ini perusahaan terus berupaya untuk melanjutkan program penjualan unit persediaannya dan menyesuaikan dengan kondisi saat ini.

Selain itu, perusahaan juga melanjutkan efisiensi di segala bidang termasuk biaya kepegawaian, biaya umum dan administrasi, biaya penjualan dan promosi, serta penentuan prioritas pembangunan proyek-proyeknya.

Baru-baru ini lembaga pemeringkat internasional, Moody's Investor Service memutuskan untuk memangkas peringkat utang APLN menjadi Caa1 dengan outlook negatif (Caa1-).

Peringkat Caa1 APLN mencerminkan ekspektasi bahwa likuiditas perseroan masih lemah pada 2021 dan 2022, karena perusahaan bergantung pada penjualan aset dan pendanaan eksternal untuk memenuhi kebutuhan uang tunai.

"Kami memperkirakan pendapatan APLN dari properti investasinya tidak berubah pada tahun 2021 dari tahun 2020, tapi pendapatan dari bisnis pengembangannya akan turun secara signifikan jika penjualan aset tidak dijalankan. Dengan demikian, metrik kredit APL akan melemah selama 12-18 bulan ke depan," tulis riset Moody's.

Sebelumnya pada kuartal I tahun ini, APLN mencatatkan penurunan pendapatan yang sangat signifikan. Pendapatan APLN tercatat mencapai Rp 485,44 miliar, ambruk 63% dari periode yang sama tahun lalu Rp 1,32 triliun.

Adapun beban pokok penjualan dan beban langsung berhasil ditekan menjadi Rp 299,84 miliar dari sebelumnya Rp 772,99 miliar.

Perseroan bahkan masih bisa mencetak laba kotor Rp 185,60 miliar dari sebelumnya Rp 548,58 miliar.

Hanya saja penurunan pendapatan ditambah dengan beban perusahaan, beserta rugi kurs membuat APLN masih mencetak rugi bersih. Hingga Maret lalu, rugi kurs APLN tercatat mencapai Rp 163,69 miliar kendati berhasil dipangkas dari sebelumnya rugi kurs hingga Rp 1,05 triliun.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading