Siapin Duit! 3 Unicorn-Decacorn RI Valuasi Rp 312 T Siap IPO

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
16 July 2021 08:55
Bukalapak (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membawa kabar gembira bagi investor pasar modal yang ingin membeli penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dari perusahaan-perusahaan rintisan atau startup di Bursa Efek Indonesia (BEI).

OJK menyatakan bahwa saat ini ada tiga perusahaan rintisan bervaluasi unicorn atau di atas US$ 1 miliar (Rp 14,4 triliun) dan decacorn atau lebih dari US$ 10 miliar (Rp 145 triliun) yang siap IPO.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen menyebut, total valuasi aset dari tiga perusahaan rintisan tersebut di atas US$ 21,5 miliar atau sekitar Rp 311,75 triliun (kurs Rp 14.500/US$).


Meski demikian, OJK tidak merinci nama-nama perusahaan startup yang dimaksud.

"Dengan masuknya unicorn berpotensi mendorong market cap [kapitalisasi pasar] saham di BEI, menarik investor asing dan diprediksi menggairahkan perdagangan bursa dalam negeri," kata Hoesen, di acara Investor Daily Summit 2021 bertajuk Menanti IPO Perusahaan Big Tech, Kamis (15/7/2021).

Hoesen menilai, saat ini perusahaan teknologi perlahan sudah mulai menghiasi emiten dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar (big caps) di BEI.

"Saat ini jumlah market cap seluruh emiten teknologi masih 5% dari seluruh emiten di BEI. Tidak menutup kemungkinan, emiten di sektor teknologi akan menjadi top leading di pasar modal Indonesia," ujarnya.

Hoesen membandingkan, bursa saham Wall Street di Amerika Serikat, dalam periode 20 tahun terakhir masih didominasi oleh perusahaan di sektor jasa keuangan, energi dan manufaktur. Namun, saat in situasinya sudah berubah, emiten di sektor teknologi menguasai dengan nilai kapitalisasi terbesar.

"Saat ini didominasi perusahaan teknologi seperti Apple, Google, Facebook, Amazon dan lainnya," kata Hoesen.

Pada kesempatan sama, Komisaris BEI, Pandu Patria Sjahrir mengatakan, saat ini BEI mencatat ada empat perusahaan unicorn yang berpotensi mencatatkan saham di BEI.

Perusahaan tersebut antara lain, GoTo (Gojek-Tokopedia), PT Global JET Express (J&T Express), dan PT Tinusa Travelindo (Traveloka) dan Bukalapak. Untuk Bukalapak bahkan sudah mendapatkan kode perdagangan yakni BUKA.

Nilai kapitalisasi (market capitalization/market cap) pasar GoTo diperkirakan sebesar US$ 18 miliar atau setara Rp 261 triliun, J&T Express sebesar US$ 7,8 miliar atau Rp 113 triliun, Bukalapak US$ 6,05 miliar atau Rp 88 triliun dan Traveloka sebesar US$ 2,75 miliar atau Rp 40 triliun.

Pandu menilai, jika empat perusahaan ini mencatatkan sahamnya di BEI berpotensi akan mendominasi indeks LQ45 atau indeks MSCI Indonesia.

Saat ini, bobot MSCI Index dikuasai 22 perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar US$ 95,30 miliar, masuknya 4 perusahaan diprediksi bertambah menjadi sebanyak 26 perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar US$ 103,32 miliar.

"Kemungkinan besar akan mendominasi LQ45 atau MSCI Indonesia. Bukalapak rank 20, perusahaan lain menambah dominasi di MSCI Index," tutur Pandu.

Saat ini, investor memang tengah euforia atas IPO perusahaan e-commerce asli Indonesia, PT Bukalapak.com Tbk. Target listing atau tercatat di papan perdagangan pada 6 Agustus mendatang dengan kode saham BUKA.

Namun IPO ini dilakukan melalui sistem polling allotment atau penjatahan terpusat di perusahaan sekuritas, bukan dengan pembelian elektronik alias e-IPO.

Bukalapak menawarkan saham sebanyak 25.765.504.851 saham biasa atas nama yang seluruhnya saham baru serta dikeluarkan dari portepel dalam IPO di BEI.

Untuk masa penawaran awal atau bookbuilding dilakukan sejak 9 Juli lalu hingga 19 Juli. Tanggal efektif dari OJK diharapkan pada 26 Juli serta masa penawaran umum dilakukan 28 hingga 30 Juli 2021 mendatang. Harga penawaran yakni Rp 750-850/saham dengan target dana IPO maksimal Rp 22 triliun.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading