Analisis Teknikal

IHSG 'Positif' kena Corona, Waspada Anjlok ke bawah 5.900

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
29 June 2021 08:20
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Virus corona akhirnya "menginfeksi" Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhirnya jeblok ke bawah 6.000. Kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) di Indonesia yang kini penambahan per harinya terus di atas 20.000 orang masih akan membebani IHSG pada perdagangan Selasa (29/6/2021). Apalagi Pemeberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akan kembali diketatkan.

Melansir data Refinitiv, IHSG kemarin ambrol 1,38% ke 5.939.471. Investor asing tercatat kembali melakukan aksi jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp 221 milia, dengan nilai transaksi mencapai Rp 11,5 triliun.

Kasus Covid-19 di Indonesia dalam tiga hari terakhir penambahannya selalu di atas 20.000 orang. Kemarin jumlah kasus positif dilaporkan sebanyak 20.694 orang, turun dari hari sebelumnya 21.342 orang yang merupakan rekor tertinggi sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia.


Jakarta masih menjadi penyumbang kasus positif terbanyak yakni 8.348.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi yakni kasus aktif di Indonesia yang kini mencapai 218.487 orang, yang merupakan rekor tertinggi.

Akibat lonjakan tersebut PPKM akan kembali diketatkan, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Ganip Warsito kemarin mengungkapkan mal akan diperbolehkan beroperasi hingga pukul 17:00 WIB. Sementara restoran hanya boleh take away dan dibatasi hingga pukul 20.00 WIB.

Pengetatan tersebut berisiko menghambat laju pemulihan ekonomi Indonesia, yang tentunya bisa memukul IHSG.

Dari eksternal, bursa saham AS (Wall Street) bervariasi pada perdagangan Senin kemarin, tetapi indeks S&P 500 kemarin mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Meski demikian rekor S&P 500 belum mampu memperbaiki sentimen di Asia, indeks Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan yang sudah dibuka masuk ke zona merah, masing-masing melemah 0,7% dan 0,4%.

Secara teknikal, risiko berlanjutnya penurunan IHSG kini semakin besar setelah mengakhiri perdagangan di bawah rerata pergerakan 50 hari (Moving Average 100/MA 100) di kisaran 5.980. Apalagi apa akhir April lalu terjadi persilangan antara MA 50 dan MA 100 yang sebenarnya memberikan tekanan turun yang besar.

Tekanan turun tersebut terlihat semakin kuat setelah IHSG rebound tetapi selalu gagal mengakhiri perdagangan di atas MA 100 dalam 2 pekan terakhir, yang selalu diikuti kemerosotan.

Indikator stochastic pada grafik harian sudah mulai turun dari wilayah overbought.

jkseGrafik: IHSG Harian
Foto: Refinitiv

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

MA 50 kini menjadi resisten terdekat, selama tertahan di bawahnya IHSG berisiko turun ke 5.900 hingga 5.880. Support kuat berada cukup jauh di kisaran 5.815 yang merupakan MA 200.

Sementara jika mampu kembali ke atas 5.980, IHSG berpeluang naik ke level psikologis 6.000. Penembusan ke atas level tersebut akan membawa IHSG naik ke 6.030.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading