Utang Tembus Rp 70 T, Terungkap 7 Strategi Bertahan Garuda

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
22 June 2021 15:05
Irfan Setiaputra, Dirut Garuda (Dok.Kementerian BUMN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak tahun lalu, maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) telah berada dalam mode bertahan hidup alias survival karena kondisi pandemi Covid-19.

Strategi perusahaan di kala itu adalah membuat agar perusahaan bisa bertahan di tengah kondisi tersebut.

Berdasarkan bahan paparan yang disampaikan perusahaan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Senin kemarin (22/6/2021), perusahaan mengungkapkan terdapat tujuh langkah yang dilakukan perusahaan di tahun lalu.


Pertama, adalah dengan mengembangkan bisnis kargo udara untuk menyiasati turunnya permintaan penumpang akibat pandemi.

Kedua, perusahaan juga melakukan restrukturisasi cucu dari anak perusahaan, meski tidak dijelaskan jumlahnya berapa banyak yang direstrukturisasi.

Ketiga, perusahaan pun memilih untuk melakukan restrukturisasi atas sukuk yang jatuh tempo pada Juni 2020 menjadi Juni 2023.

Keempat, berupaya menjaga kondisi likuiditas perusahaan dengan mendapatkan fasilitas Penugasan Khusus Ekspor (PKE) National Interest Account (NIA) dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI) senilai Rp 1 triliun.

Perusahaan juga mendapatkan fasilitas penundaan kewajiban pajak, lessor, dan supplier. 

Kelima, perusahaan juga melakukan negosiasi dengan lessor pesawat. Dari upaya ini perusahaan berhasil menurunkan biaya sewa pesawat hingga US$ 11 juta atau Rp 159,5 miliar (asumsi kurs Rp 14.500/US$) per bulannya mulai Desember tahun lalu. Nilai tersebut setara dengan penghematan US$ 44 juta per tahun di 2020.

Keenam, perampingan SDM (sumber daya manusia). Tahun lalu perusahaan juga melakukan rasionalisasi karyawan hingga 1.511 orang melalui program pensiun dini dan penyelesaian kontrak di awal (early termination).

Dari penurunan jumlah karyawan ini perusahaan bisa melakukan penurunan biaya hingga US$ 2,6 juta atau US$ 31,2 juta per tahun.

Ketujuh, perusahaan juga melakukan restrukturisasi utangnya ke sejumlah BUMN seperti PT Pertamina (Persero), PT Angkasa Pura 1 dan 2 dengan total US$ 407 juta dengan tenor tiga tahun balloon payment.

Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN Kartiko Wirjoatmodjo menjelaskan pihaknya memang sudah menunjuk konsultan hukum dan keuangan untuk memulai proses restrukturisasi seluruh utang Garuda.

"Sebagai informasi, dalam sebulan cost Garuda US$ 150 juta, sementara revenue US$ 50 juta, jadi setiap bulan rugi US$ 100 juta, jadi memang sudah tidak mungkin dilanjutkan dalam kondisi sekarang ini," kata Tiko.

Dengan demikian, katanya, utang Garuda tadinya sekitar Rp 20 triliun, bengkak jadi Rp 70 triliun, sebagai dampak juga dari implementasi PSAK (pedoman standar akuntansi keuangan).

"Ini memang secara PSAK dicatatkan, diharuskan dicatat sebagai kewajiban, ini membuat posisi secara neraca insolvensi [tak mampu bayar kewajiban tepat waktu], karena antara utang dan ekuitasnya sudah tidak memadai mendukung neraca keuangan," kata Tiko, mantan Dirut PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Sebab itu, kata Tiko, untuk melakukan restrukturisasi yang sifatnya fundamental, utang Garuda yang mencapai US$ 4,5 miliar itu harus diturunkan di kisaran US$ 1-1,5 miliar.



[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading