Debat Panas DPR vs Bos Garuda soal Utang Rp 70 T, Ada Apa?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
22 June 2021 12:37
Irfan Setiaputra, Dirut Garuda (Kementerian BUMN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dan anggota Komisi VI DPR RI Nusron Wahid terlibat dalam debat panas mengenai ketidaksesuaian pendapat mengenai upaya penyelamatan perusahaan.

Bahkan debat ini berakhir dengan upaya angkat tangan Nusron terhadap penjelasan manajemen perusahaan.

Perbedaan pendapat yang dimaksud adalah mengenai opsi penyelamatan yang ditawarkan oleh manajemen perusahaan. Ada dua opsi yakni suntikan dana pemegang saham alias bail in dan opsi kedua restrukturisasi.


Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengemukakan bahwa manajemen condong memilih opsi kedua, yakni penyelesaian melalui restrukturisasi utang secara menyeluruh dengan kreditor, baik di luar pengadilan maupun melalui pengadilan alias Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Namun, opsi ini ditolak mentah-mentah oleh politisi Partai Golkar ini. Mantan Kepala BNP2TK lebih memilih opsi satu, yakni untuk perusahaan mendapatkan bantuan likuiditas saja dari negara untuk menyelesaikan utang yang saat ini nilainya mencapai Rp 70 triliun.

Bahkan dia meminta manajemen Garuda untuk menanggung sendiri konsekuensi dari pilihannya ini jika pada akhirnya pilihan ini dinilai tidak tepat.

Bahkan bila perlu, jika upaya penyelamatan tersebut gagal dan Garuda mati, maka manajemen juga ikut mati.

Berikut catatan lengkap mengenai debat tersebut:

Nusron

"Kan tadi bapak sanggup dan harus menyelamatkan Garuda ini dengan pilihan opsi 2 atau opsi 3. Andai nanti bapak ambil opsi 2, kalau saya nggak yakin opsi 2, saya tetap opsi 1 baru yakin. Karena Anda yakin opsi 2, berapa lama ini masalah bisa selesai dan apa konsekuensinya ternyata nggak selesai? Mungkin reputasi anda hancur tapi kan ujung-ujungnya Garuda mati juga. Karena kita semua nggak ingin Garuda mati."

Irfan

"Ya, Pak Nusron kalau nggak percaya sama kami tolong disampaikan kepada pak Menteri bahwa saya nggak percaya sama direksi sekarang, tolong diganti."

Nusron

"Bukan, saya nggak percaya dengan pilihan opsi 2. Kalau saya pribadi saya opsi 1 mendorongnya, saya yakin opsi 1 100% bisa selamat. Tapi kalau anda yakin dan Anda yakin bisa dengan opsi 2, saya tanya berapa lama dan apa konsekuensi logisnya kalau ternyata gagal? Anda sanggup menghidupkan Garuda lagi kalau sudah kadung mati?"

Kemudian pembicaraan tersebut dilanjutkan oleh Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia Dony Oskaria mengenai kondisi keuangan perusahaan saat ini. Lengkap dengan beban keuangan yang ditanggung oleh perusahaan karena biaya sewa pesawat yang bengkak dan menyebabkan perusahaan rugi besar.

Atas dasar tersebut, dia menilai harus segera diambil langkah penyelamatan yang sesuai agar perusahaan segera membaik. Bahkan dia juga menjelaskan bahwa saat ini perusahaan terus berusaha untuk melakukan negosiasi dengan lessor untuk menurunkan beban biaya sewa pesawat ini.

Tak sampai di sana, Nusron kembali membawa pembicaraan mengenai opsi yang akan diambil tersebut.

Nusron

"Justru itu yang saya pertanyakan, dua langkah itu dilakukan, pada satu sisi negosiasi dengan lessor, sisi lain adalah negosiasi utang lama yang dipilih oleh Pak Dirut yang sanggup dan optimis itu kira-kira sampai kapan selesai? Supaya saya ini bisa tidur nyenyak, bahwa nanti saya bangun eh Garuda masih hidup."

"Ini kapan kira-kira saya bisa tidur nyenyak, dan apa konsekuensinya kalau dari lack of time tadi ternyata gagal, ternyata Garuda kadung mati? Negosiasi utang lama gagal, kemudian Garuda mati, apa kompensasi yang bisa bapak berikan kepada kami pencinta Garuda agar bisa Garuda hidup kembali?"

Irfan

"Penghitungan kita proses negosiasi misalnya lewat PKPU ataupun tidak lewat PKPU, kita tidak bisa lagi lewat dari tahun ini. Ini yang kita targetkan bersama internal kita."

Nusron

"Oke jelas, berarti ketemu Desember. Ketua saya usul sampai bulan Desember kita nggak usah rapat lagi dengan Garuda, kita tunggu Januari."

Irfan

"Sebentar Pak, seperti yang saya sampaikan tadi adalah di dalam proses kita melakukan proposal kepada kreditur kita untuk utang-utang masa lalu maupun kepada para lessor kita untuk ke depan, ini ada kemungkinan besar kita memang mengajukan proposal dimana ada konsekuensi finansial dan ada konsekuensi debt to equity."

"Nah ini kami mohon izin apabila proposal itu membutuhkan dukungan politik dari DPR, kami mohon izin untuk bisa mempresentasikan proposal itu terlebih dahulu ke Komisi VI apabila diperlukan sejauh itu. Kalau tidak bisa diselesaikan secara korporasi tentu saja kita lakukan upaya secara korporasi."

Nusron

"Saya kira oke saja, tapi gini, saya sudah percaya ini, silahkan ambil dua langkah itu kalau yakin tahun ini dilakukan. Tapi kami nggak mampu menjamin apakah yang di debt equity swap itu mau, apakah Pertamina mau, apakah Himbara itu mau."

Irfan

"Maksud saya ini kan membutuhkan keputusan politik dari DPR karena punya implikasi terhadap jumlah saham pemerintah di Garuda."

Nusron

"Oh kami nggak masalah yang penting selamat, jangankan punya pemerintah, saham minoritas yang lain hilang pun saya nggak menangis. Tapi yang penting sekarang gini aja, Garuda hidup, Desember selesai sebagaimana janji bapak tadi, Januari kita ketemu. Kalau Garuda selamat saya appreciate sama Bapak-Bapak di sini. Tapi kalau sampai Garuda mati, bapak-bapak harus ikut mati."

"Karena apa, saya cinta Garuda, nyawanya nggak ketolong, itu karena Bapak-Bapak yang janji menyelamatkan dengan opsi itu ternyata nggak mampu. Kalau saya mendingan saya pesimis, saya nggak sanggup saya minta opsi 1 kepada pemerintah. Tapi bapak nggak mau untuk itu, silahkan, itu hak saya hormati, kita ketemu Januari."

Irfan

Enak juga jadi Nusron ya, tahun depan saya apply."


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading