Covid RI Meledak, Sentimen Buruk Pasar Pekan Depan!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
20 June 2021 19:30
Petugas medis menunjukkan surat tugas yang membawa pasien Covid-19 menuju Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Jakarta, Selasa (8/6/2021). Pemerintah memerbarui data kasus Covid-19 di RI. Hari ini pemerintahmelaporkan tambahan kasus Covid 6.294, kasus sembuh covid 5.85 dan 189 kasus meninggal akibat covid. Penambahan kasus baru ini disampikan oleh satgas Covid-19 pada Selasa(8/6/2021). Pantauan CNBC Indonesia dilokasi mobil ambulans hilir mudik datang dan pergi. Kisaran waktu 15 menit datang satu mobil ambulans dan satu mobil sekolah yang membawa pasien Covid-19. Dilokasi salah satu pengemudi ambulans Wisma Atlet juga tampak kelelahan dan beristirahat di bangku supir bus. Salah satu keluarga juga datang menggunakan sepeda motor untuk di isolasi mandiri di Wisma Atlet. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed yang mengumumkan rapat kebijakan moneter di pekan ini membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), rupiah, hingga obligasi Indonesia rontok ke zona merah.

Tekanan kini semakin menguat dari dalam negeri, kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) yang terus melonjak membuat aset-aset tersebut terancam kembali merosot pada pekan depan.

IHSG sepanjang pekan lalu membukukan pelemahan 1,45% ke 6.007,12. Penurunan mingguan tersebut menjadi yang pertama setelah sebelumnya mencatat penguatan 3 pekan beruntun.


Data pasar mencatat, sepanjang pekan lalu investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 61,47 miliar di pasar reguler, dan Rp 702 miliar ditambah pasar nego dan tunai. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 68,1 triliun.

Sementara itu nilai tukar rupiah melemah 1,28% melawan dolar AS ke Rp 14.370/US$. Kemudian dari pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) bervariasi. Yield SBN tenor 1 tahun, 5 dan 25 tahun mengalami penurunan, sementara sisanya naik.

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Ketika yield turun artinya harga sedang naik, begitu juga sebaliknya.

Mayoritas SBN yield-nya mengalami kenaikan, berarti harganya sedang turun dan mengalami aksi jual.

Maklum saja, The Fed saat mengumumkan kebijakan moneter Kamis (17/6/2021) dini hari waktu Indonesia mengejutkan pasar dengan memberikan proyeksi suku bunga akan naik di tahun 2023. Tidak hanya sekali, bahkan bisa ada 2 kali kenaikan suku bunga masing-masing 25 basis poin hingga menjadi 0,75%.

Proyeksi tersebut jauh lebih cepat ketimbang yang diberikan bulan Maret, yakni kenaikan suku bunga di tahun 2024.

Pasca pengumuman tersebut, yield obligasi (Treasury) AS mengalami kenaikan, yang selisihnya dengan SBN menyempit. Alhasil, aksi jual menerpa SBN.

Proyeksi suku bunga ditambah dengan kenaikan yield Treasury AS membuat dolar AS begitu perkasa. Sepanjang pekan ini, indeks dolar AS melesat 1,8% ke 92,346, level terkuat sejak awal April. Rupiah pun terpukul.

Sementara itu bursa saham AS (Wall Street) juga merosot merespon pengumuman The Fed, yang berdampak pada buruknya kinerja IHSG.

Rontoknya IHSG, rupiah hingga SBN terjadi saat makin banyak tanda-tanda perekonomian Indonesia bangkit di kuartal ini dan terlepas dari resesi.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada pekan lalu melaporkan nilai ekspor Indonesia sebesar US$ 16,6 miliar. Turun 10,25% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/MtM), tetapi melonjak 58,76% dari Mei 2020 (year-on-year/YoY).

Sementara nilai nilai impor Indonesia pada Mei 2021 adalah US$ 14,23 miliar. Turun 12,16% dibandingkan bulan sebelumnya MtM tetapi melejit 66,68% dibandingkan Mei 2020 YoY.

Dengan nilai ekspor impor tersebut, neraca perdagangan mencatat surplus US$ 2,37 miliar.

Lonjakan impor bukan berarti hal yang buruk. Memang impor merupakan pengurang dari produk domestik bruto (PDB), tetapi impor Indonesia didominasi oleh bahan baku/penolong dan barang modal, yang digunakan untuk kepentingan industri dalam negeri. Artinya, saat impor naik maka industri di dalam negeri kembali menggeliat.

Di sisi lain, kenaikan ekspor menjadi indikasi perekonomian global yang mulai pulih.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Ledakan Covid-19 dan Sinyal Taper Tantrum

Ledakan Covid-19 dan Sinyal Taper Tantrum
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading