Dihantam Luar Dalam, Menkeu & Bos BI Siap Jaga SBN-Rupiah!

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
14 June 2021 15:02
Menteri keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan. (tangkapan Layar Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan pihaknya mulai mengantisipasi dampak pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed terhadap Surat Berharga Negara (SBN), yang merupakan salah satu sumber dari pembiayaan defisit APBN.

Sri Mulyani menjelaskan, ekspektasi pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat memicu arus modal asing keluar (capital outflow) di negara berkembang, termasuk Indonesia, yang akan menekan nilai tukar rupiah dan pasar SBN.

Percepatan pemulihan ekonomi AS tersebut salah satunya tercermin dari inflasi AS yang lebih besar dari target yakni 2%. Pada Mei 2021 lalu, inflasi AS berada pada posisi 5%.


"Dampak rambatan kondisi tersebut terhadap perekonomian domestik, berpotensi menurunkan daya dukung investor global terhadap pembiayaan fiskal melalui SBN," jelas Sri Mulyani, dalam rapat kerja di Komisi XI DPR, Senin (14/6/2021).

Selain itu, lanjut Sri Mulyani, penyesuaian imbal hasil (yield) SBN untuk menjaga daya tarik SBN dan stabilitas nilai tukar rupiah dapat mengurangi minat bank untuk menyalurkan kredit yang diperlukan bagi pemulihan ekonomi.

Terlebih, kata Sri Mulyani, tidak selamanya pemerintah bisa bergantung dari pembelian SBN oleh Bank Indonesia (BI).

"Saat ini kami masih memiliki SKB I dengan Pak Gubernur BI (Perry Warjiyo) dan untuk itu BI bisa melakukan beberapa langkah sebagai standby buyer (SBN). Tapi, ini tentu bukan sesuatu yang akan seterusnya jadi kami juga perlu untuk terus kembalikan penguatan dari sektor fiskal kita dan potensi pembiayaan," ujarnya.

Pemerintah, kata Sri Mulyani, akan tetap mewaspadai potensi pengetatan kebijakan moneter AS. Sri Mulyani juga menyoroti sektor tenaga kerja AS yang juga mulai mengalami pengetatan. Kondisi ini ditunjukkan dari penurunan klaim pengangguran menjadi 376 ribu pada pekan lalu.

Penurunan klaim pengangguran di AS tersebut, kata Sri Mulyani, berpotensi mengerek upah lantaran perusahaan akan berlomba mencari tenaga kerja. Kenaikan upah, kata dia, tentunya akan mengerek kembali inflasi AS pada periode berikutnya.

"Ini hal yang terus kami waspadai, karena meskipun kejadian di AS tapi respons policy (kebijakan) The Fed akan memberikan pengaruh pada seluruh dunia. Biasanya kalau terjadi kenaikan suku bunga di AS berarti capital flow ke negara emerging sangat terpengaruh," tuturnya.

Senada, juga disampaikan oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, yang hadir dalam kesempatan yang sama. Perry mengungkapkan kondisi pemulihan ekonomi di AS telah meningkat pesat. Ini karena adanya vaksinasi, didukung adanya stimulus jumbo yang diberikan oleh pemerintahan Presiden Joe Biden. Stimulus ini akhirnya berdampak terhadap kenaikan inflasi dan menyebabkan surat utang pemerintah AS (US Treasury) cukup tinggi 1,6% dari sebelumnya hanya 1,2% - 1,3%.

Oleh karena itu, kata Perry, BI bersama pemerintah terus melakukan pendalaman pasar untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah dan stabilisasi SBN.

"Itu juga berdampak pada stabilitas eksternal kita. Terjadi outflow, kenaikan terhadap nilai tukar rupiah, kenaikan yield SBN. Kami bersama Bu Menkeu terus melakukan langkah stabilitas tidak hanya nilai tukar, tapi juga stabilisasi SBN," jelas Perry.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading