Bursa Asia Anjlok Bareng IHSG, Hang Seng-KOSPI Melesat!

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
11 June 2021 16:45
Kantor pusat KEB Hana Bank di Seoul, Korea Selatan, Kamis, 23 Juli 2020. (AP/Ahn Young-joon)(AP Photo/Ahn Young-joon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sempat dibuka dan bergerak di zona hijau pada perdagangan Jumat (11/6/2021) pagi hari, mayoritas bursa saham Asia terpaksa berakhir di zona merah pada perdagangan akhir pekan ini, setelah Amerika Serikat (AS) merilis data inflasi terbarunya pada Mei 2021.

Hanya indeks Hang Seng Hong Kong dan KOSPI Korea Selatan yang mampu bertahan di zona hijau pada perdagangan hari ini.

Indeks Hang Seng ditutup menguat 0,36% ke level 28.842,13 dan KOSPI berakhir melesat 0,77% ke 3.249,32.


Sedangkan sisanya tak mampu bertahan di zona hijau dan berakhir melemah pada hari ini. Indeks Nikkei Jepang ditutup turun tipis 0,03% ke 28.948,73, Shanghai Composite China melemah 0,58% ke 3.589,83, dan Straits Times Singapura terdepresiasi 0,14% ke 3.157,97.

Sementara untuk pasar saham Indonesia, yakni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terpaksa ditutup melemah 0,2% ke posisi 6.095,49.

Pasar saham di Asia cenderung sepi meski indeks S&P 500 di AS mencetak rekor tertinggi baru pada perdagangan Kamis (10/6/2021) waktu setempat.

Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan Indeks Harga Konsumen (IHK) periode Mei mencapai angka 5% secara tahunan, menjadi yang tercepat sejak 2008. Inflasi inti, yang mengecualikan harga makanan dan energi,menguat 3,8% atau yang tercepat dalam 3 dekade.

Kenaikan inflasi tersebut dipengaruhi harga mobil bekas yang naik lebih dari 7%, dan menyumbang sepertiga pertumbuhan IHK, menurut BLS. Kenaikan ini merupakan fenomena sesaat terkait dengan pandemi dan suplai mobil bekas.

Angka ini jauh di atas polling ekonom oleh Dow Jones yang mengestimasikan angka 4,7%. Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sebelumnya memperkirakan kenaikan inflasi tidak akan terjadi secara permanen, karena hanya ditopang oleh stimulus.

Di sisi lain, klaim tunjangan pengangguran baru per pekan lalu mencapai 376.000 unit, atau mirip dengan estimasi Dow Jones sebesar 370.000. Ini masih merupakan level yang terendah di era pandemi.

"Dari data yang ada, kontribusi kuat muncul dari sektor yang pulih cepat sejak pembatasan sosial terkait pandemi dilonggarkan," tutur Charlie Ripley, perencana investasi senior Allianz Investment Management, seperti dikutip CNBC International.

Hal tersebut, lanjut dia, membuktikan bahwa tekanan inflasi tidak berlangsung lama melainkan disumbang sektor yang terkait dengan arus suplai barang yakni mobil dan truk.

Ekonom dalam polling Reuters memperkirakan The Fed baru mengumumkan pengurangan pembelian obligasi di pasar pada Agustus atau September, dan diikuti pemangkasan pembelian obligasi awal 2022.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading