Waspada IHSG! Bursa Asia Melemah Setelah China Rilis Data PMI

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
31 May 2021 08:44
People walk by an electronic stock board of a securities firm in Tokyo, Tuesday, Dec. 3, 2019. Asian shares slipped Tuesday, following a drop on Wall Street amid pessimism over U.S.-China trade tensions. (AP Photo/Koji Sasahara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia dibuka beragam cenderung melemah pada perdagangan Senin (31/5/2021), karena investor merespons beragam dari rilis indeks manajer pembelian manufaktur China untuk periode Mei 2021.

Tercatat indeks Nikkei Jepang dibuka melemah 0,29%, Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,2%, dan Shanghai Composite China turun 0,29%.

Sementara untuk indeks Straits Times Singapura dibuka naik 0,16% dan KOSPI Korea Selatan menguat 0,3%.


Investor merespons beragam dari rilis data indeks manajer pembelian (Purchasing Manager' Index/PMI) manufaktur China untuk periode Mei 2021 dan data penjualan ritel Jepang-Korea Selatan pada April 2021.

Badan Statistik Nasional (National Bureau Statistic/NBS) China melaporkan PMI manufaktur China pada periode Mei 2021 tercatat turun 0,1 poin ke angka 51, dari sebelumnya pada April lalu di angka 51,1. Walaupun turun sedikit, namun aktivitas manufaktur China masih ekspansif.

Angka PMI China pada April 2021 sedikit meleset dari perkiraan Reuters yang memperkirakan PMI manufaktur China masih di angka 51,1.

PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di bawahnya berarti kontraksi, dan di atas 50 berarti ekspansi.

Sementara itu dari Jepang dan Korea Selatan, data penjualan ritel pada April 2021 juga telah dirilis pada pagi hari ini.

Penjualan ritel Jepang naik 12% pada April (year-on-year/YoY), dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020 yang berada di level 5,2%. Angka ini bertentangan dengan perkiraan pasar dari Reuters yang memperkirakan naik menjadi 15,3%.

Sedangkan secara bulanan (month-on-month/MoM), penjualan ritel Negeri Sakura pada April tercatat turun menjadi -4,5%, dari sebelumnya pada Maret sebesar 1,2%.

Sementara di Korea Selatan, penjualan ritel pada April 2021 turun menjadi 8,6% (YoY), dari sebelumnya pada periode yang sama tahun 2020 di level 10,9%. Adapun secara bulanan (MoM), penjualan ritel Negeri Ginseng pada April tercatat masih sama dengan Maret lalu, yakni sebesar 2,3%.

Beralih ke Amerika Serikat (AS), Bursa saham Wall Street menguat tipis pada perdagangan Jumat (28/5/2021) pekan lalu, sekaligus perdagangan terakhir bulan Mei.

Pada hari ini, pasar AS libur memperingati Memorial Day. Tanda-tanda pemulihan ekonomi AS menjadi pemicu penguatan Wall Street pada pekan lalu.

Indeks S&P 500 berhasil menguat tipis 0,08% ke 4.204,11, begitu juga Nasdaq yang penguatannya kurang dari 0,1% di 13.748,74. Sementara itu Indeks Dow Jones berhasil menguat 0,19% di 34.529,45.

Data yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat lalu sebelum pasar AS dibuka menunjukkan inflasi berdasarkan personal consumption expenditure (PCE). Data tersebut merupakan inflasi acuan bagi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Inflasi PCE inti dilaporkan tumbuh 3,1% (YoY) di bulan April, jauh lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya 1,8% YoY. Rilis tersebut juga lebih tinggi ketimbang hasil survei Reuters terhadap para ekonomi yang memprediksi kenaikan 2,9%. Selain itu, rilis tersebut juga merupakan yang tertinggi sejak Juli 1992, nyaris 30 tahun terakhir.

Meski demikian, The Fed memprediksi tingginya inflasi hanya sementara, dan ke depannya akan kembali melandai. Sehingga kebijakan ultra-longgar belum akan dirubah, yang tentunya memberikan keuntungan bagi emas.

"Betul, kita akan melihat inflasi yang lebih tinggi. Namun sebagian besar bersifat temporer. Akan tiba saatnya kita akan bicara soal perubahan kebijakan moneter, tetapi tidak sekarang saat pandemi belum usai," kata James Bullard, Presiden The Fed cabang St Louis, dalam wawancara dengan Yahoo Finance.

Sehari sebelumnya, data menunjukkan pada pekan yang berakhir 22 Mei 2021, jumlah klaim tunjangan pengangguran turun 38.000 menjadi 406.000. Ini adalah jumlah klaim terendah sejak Maret tahun lalu. Perlahan tetapi pasti, pasar tenaga kerja AS bangkit menuju normal sebelum terhantam pandemi virus corona (Covid-19).

"Ekonomi terus berlari. Ke depan, pertumbuhan ekonomi akan didorong oleh keluarnya tabungan masyarakat yang menumpuk pada masa pandemi," kata Scott Hoyt, Ekonom Senior Moody's Analytics, seperti dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading