Di Indonesia Ritel Raksasa Tutup, Kok di AS Malah Tumbuh?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
26 May 2021 21:40
Supermarket Hero (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 yang muncul sejak tiga bulan pertama tahun lalu benar-benar mempercepat 'kemerosotan' ritel Tanah Air. Beberapa perusahaan ritel raksasa bahkan harus menutup operasional beberapa gerainya. Langkah itu diambil untuk menjawab tantangan pandemi akibat kondisi yang kian tidak menentu.

Selama 15 bulan terakhir, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sudah menyatakan bahwa ada ratusan ritel tutup. Sebab, setiap hari ada saja gerai yang berhenti beroperasi di Indonesia. Sektor ritel yang dimaksud termasuk ritel fashion, makanan, dan gerai ritel non-makanan lainnya.

Terbaru, pada Selasa (25/5/2021), manajemen PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mengungkapkan semua gerai Giant akan ditutup pada Juli 2021. Gerai Giant akan dialihkan menjadi IKEA sebanyak lima gerai dan sisanya menjadi gerai Hero.


Selain Giant, emiten ritel milik Grup Lippo, PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) juga berencana menutup 13 gerainya pada tahun ini.

Dampak pandemi juga dirasakan emiten toko ritel lainnya yakni pengelola jaringan ritel Centro, PT Tozy Sentosa, yang menutup gerai di Bintaro dan Plaza Ambarrukmo.

Namun, saat ritel-ritel besar Ibu Pertiwi ngos-ngosan dihajar pandemi dan perubahan preferensi berbelanja masyarakat yang cenderung ke marketplace daring, ritel-ritel di Amerika Serikat (AS) malah bisa bertahan dan bahkan tumbuh sepanjang tahun pagebluk 2020.

Awalnya bermula saat pandemi Covid-19 mulai menyerang negeri Paman Sam. Selang beberapa hari setelah AS mulai melakukan lockdown, orang-orang yang panik mulai membeli sejumlah kebutuhan dapur dan rumah tangga.

Sejurus kemudian, raksasa ritel e-commerce AS, Amazon, kebanjiran pesanan hingga menyebabkan rantai pasokan terganggu, mulai dari pengiriman tertunda dan sontak menyebabkan ulasan negatif pelanggan di website naik sampai 50%.

Di saat Amazon mengalami kendala tersebut, jutaan konsumen mencoba beralih ke toko online lain, yang tergolong lebih kecil. Contoh saja, peritel web Wayfair dan penyedia makanan organik Thrive Market menunjukkan lonjakan bisnis yang signifikan.

Selain itu, mengutip ulasan panjang staf penulis Forbes Steven Bertoni di website Forbes pada 14 November tahun lalu, dampak dari peralihan konsumen ini sangat dirasakan oleh 'pengecer boks besar' (big-box retailers), seperti Target, Home Depot dan Walmart.

Big-box retailers adalah sebutan untuk perusahaan ritel yang memiliki bangunan toko fisik dan biasanya memiliki sejumlah gerai yang dibuka di wilayah-wilayah tertentu.

Steve mencatat, pada kuartal kedua, penjualan Target melonjak hampir 25% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi US$ 23 miliar, seiring penjualan online yang meningkat tiga kali lipat dan bertambahnya 10 juta pelanggan baru.

Seperti Target, Home Depot juga tumbuh sekitar 25%, menjadi US$ 38 miliar, lantaran penjualan online-nya berlipat ganda.

Bahkan raksasa ritel Walmart, jelas Steve, "di mana untuk bisa meningkatkan pendapatan secara signifikan sama seperti menggeser sebuah kapal induk" dengan kata lain sangat sulit dilakukan, penjualan online berlipat ganda dan mendorong peningkatan 6% yoy, menjadi US$ 140 miliar.

Menariknya, kendati pagebluk Covid-19 tiba-tiba datang, ketiga peritel boks besar di atas tampak telah telah bersiap dengan ribuan toko fisik mereka. 'Senjata' ini yang tidak dimiliki oleh Amazon.

"Dengan menghubungkan belanja digital ke lokasi toko mereka, Target, Walmart, Best Buy, Home Depot, dan Lowe mengubah toko mereka, yang telah lama dianggap sebagai liabilitas yang mahal dan cepat menua, menjadi pusat distribusi hiperlokal yang sekarang memberdayakan belanja tatap muka dan digital," jelas Steve, dikutip CNBC Indonesia, Rabu (26/5/2021).

Memang, selama bertahun-tahun, sektor ritel telah kehilangan arah akibat gempuran e-commerce. Namun, menurut Steve, pergeseran preferensi belanja saat pagebluk tersebut juga menguntungkan konsumen.

"Target menjadi benar-benar nyaman," kata Paul Trussell, analis ritel Deutsche Bank. "Butuh investasi bertahun-tahun, tetapi sekarang Anda dapat membeli secara online, mengambil di toko, atau menggunakan aplikasinya agar seseorang meletakkan produk tepat di bagasi mobil Anda."

Seiring dengan melonjaknya penjualan berkat bantuan pekerja yang berada di garis depan, pada Juli tahun lalu, Target mempercepat kenaikan upah minimum pekerja sebesar US$ 2 menjadi US$ 15/jam.

Best Buy dan Walmart juga segera menyusul. Walmart, misalnya, berjanji untuk membayar beberapa manajer toko hingga $ 30 per jam. Hal ini akan diikuti dengan pemberian bonus, cuti sakit, dan langkah-langkah keamanan yang lebih ketat.

Walmart juga menaikkan gaji, membayar bonus lebih dengan anggaran dari US$ 1 miliar, dan menambahkan lebih dari 14 hari cuti sakit. Home Depot pun telah membayar senilai US$ 1 miliar - plus bonus dan memperpanjang hari cuti.

Memang, bagaimanapun, toko-toko ritel saat ini membutuhkan karyawan yang lebih terlatih dan multitasking untuk menjalankan pekerjaan. "Tenaga kerja kami harus berkembang sedemikian rupa sehingga memenuhi kebutuhan pelanggan," kata CEO Best Buy Corie Barry.

"Sebagai bisnis esensial, jika kita akan mengurus Amerika," kata CEO Target Brian Cornell, "kita harus mengambil merawat tim kita terlebih dahulu."

Seiring dengan kinerja yang melesat, sepanjang tahun lalu saham Target naik 60% sejak level terendahnya di akhir Maret. Saham Lowe naik 140%, Home Depot 75%, dan Best Buy 105%. Keempat saham tersebut mengalahkan kinerja indeks S&P 500 yang melonjak 43%.

Memang, salah satu faktor lain yang turun meningkatkan pendapatan ritel raksasa tersebut ialah soal dari pemerintah yang memperbolehkan toko-toko beroperasi secara sementara di saat sebagian besar bisnis tutup. Alhasil, pedagang kelas kakap ini berhasil menyerap permintaan dari jutaan konsumen AS.

Di samping hal-hal di tas, Steve menjelaskan, sejumlah pemain ritel tersebut juga menginvestasikan sumber daya perusahaan untuk mempromosikan kesetaraan ras dan meningkatkan keberagaman antarsesama karyawan.

Pada bulan Juni, yayasan milik Walmart menjanjikan US$ 100 juta untuk sebuah pusat yang mempromosikan kesehatan, pendidikan, dan pelatihan bagi kelompok yang kurang terwakili. Orang kulit berwarna menyumbang 47% dari 1,4 juta karyawan Walmart di AS. Adapun wanita mewakili 55% dari tenaga kerjanya, termasuk sekitar setengah dari manajer toko.

Selain itu, Target, yang kantor pusatnya di Minneapolis berjarak kurang dari empat mil dari tempat kematian George Floyd, juga berjanji untuk meningkatkan jumlah karyawan kulit hitam di seluruh perusahaan sebesar 20%. Staf kulit hitam Target saat ini merupakan 15% dari angkatan kerja perusahaan.

Di antara 350.000 karyawan Target, 50% adalah orang kulit berwarna. Semenetara, 58%-nya adalah wanita, terhitung hampir setengah dari para eksekutif perusahaan.

Dalam tulisannya, Steve merangkum 5 pelajaran dari para big-box retailers untuk perusahaan ritel yang 'mini'. Pertama, pentingnya masuk ke ekosistem online untuk memperkuat toko fisik.

Kedua, adanya layanan jemput. Seperti disebutkan oleh CEO Home Depot Craig Menear, "Kami memiliki permintaan yang tinggi tetapi harus membatasi lalu lintas di dalam toko. Kami mulai di pinggir jalan, yang memungkinkan kami melayani lebih banyak pelanggan tanpa harus membuat mereka masuk ke dalam gedung."

Ketiga, pentingnya kecepatan. Ini seperti yang dilakukan Target dengan melampaui Amazon dalam hal pelayanan pengantaran di hari pertama. Target mencatatkan penjualan melalui Shipt, startup yang dibelinya pada tahun 2017, melonjak 350%. "Kami memiliki lebih dari 200.000 pembeli pribadi Shipt di seluruh Amerika," kata Cornell. "Mereka berbelanja untuk Anda dan membawa pesanan langsung ke depan pintu Anda."

Keempat, pemilihan produk. "Kurasi atau buat hal-hal trendi dan berkualitas tinggi untuk membantu orang berbelanja dengan cepat dan percaya diri," tulis Steve.

Kelima, keselamatan adalah hal yang utama. Misalnya, dengan memastikan semua produk bersih, sesuai protokol kesehatan, dan tanpa cacat. 

Di tengah kebangkitan ritel big box AS, tentu, tantangan masih akan terus datang dari sang 'raksasa' besutan Jeff Bezos Amazon yang memiliki 'amunisi' segudang.

Setelah sempat terganggu di awal pandemi, Amazon dengan cepat mempekerjakan lebih dari 175.000 karyawan baru dan memperkuat jaringan logistiknya untuk kembali ke jalur semula. Penjualan kuartal kedua (yang mencakup divisi non-ritel besar seperti AWS dan periklanan) juga meledak 40%.

Adapun, mengutip berita Reuters, dengan mengacu data eMarketer dari Insider Intelligence, penjualan yang dihasilkan oleh vendor pihak ketiga Amazon mencapai US$ 189 miliar pada tahun lalu di AS atau hampir 60% dari total penjualan e-niaga ritel A.S. perusahaan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading