Remnya Blong! Batu Bara Ngegas Terus, Kuat di Atas US$100/Ton

Market - Putra, CNBC Indonesia
23 May 2021 10:16
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tak butuh waktu lama untuk harga batu bara bangkit setelah jatuh di awal pekan. Harga kontrak futures (berjangka) batu bara termal ICE Newcastle kembali ditutup di atas level psikologis US$ 100/ton pekan ini.

Sejatinya awal pekan ini batu legam sempat terkoreksi bawah level psikologis tersebut karena kenaikan kasus Covid-19 di salah satu konsumen utamanya India. Namun, tercatat si batu legam naik 6,56% ke US$ 107,9/ton selama sepekan.


Harga batu bara sempat jatuh ke US$ 98,2/ton minggu ini. Namun karena harga batu bara termal China masih 'ogah' turun dari level US$ 147/ton maka hal ini turut mengerek naik harga batu bara Australia.

Bahkan dengan kenaikan harga batu bara Australia tembus US$ 100/ton, selisih (spread) antara harga batu bara lokalChina dan Australia masih berada di zona positif. Spread-nya masih tinggi di angka US$ 40/ton.

Masalah ketatnya pasokan batu bara China belum juga terselesaikan. Walaupun produksi sudah meningkat beberapa bulan terakhir. Namun konsumsi listrik dan kebutuhan Industri tetap melampaui kenaikan produksinya.

Kenaikan harga komoditas juga turut mendongkrak ekspor Indonesia. Bulan April lalu ekspor RI tercatat naik 52% (yoy). Ini merupakan kenaikan tahunan tertinggi selama masa Presiden Joko Widodo menjabat.

Ekspor tembus US$ 18,48 miliar. Ekspor migas naik hampir 70% (yoy) dan ekspor non-migas yang mendominasi naik 51% (yoy). Terjadi peningkatan ekspor pertanian sebesar 18,98% (yoy). Untuk produk industri pengolahan ekspornya naik 52,65% (yoy) dan komoditas tambang melesat 47% (yoy).

Peningkatan yang signifikan disumbang oleh komoditas tambang dan logam dasar seperti besi dan baja, logam mulia dan perhiasan, bijih, terak dan abu logam hingga timah dan produk turunannya.

Namun untuk ekspor bahan bakar mineral seperti batu bara baik volume maupun nilainya mengalami penurunan. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor bahan bakar mineral RI bulan April tercatat mencapai US$ 2,02 miliar atau turun 2% dibanding bulan sebelumnya.

Dilihat dari sisi volume, ekspor juga turun 3,4% dibanding bulan sebelumnya. Ekspor bahan bakar mineral bulan Maret tercatat mencapai 34,84 juta ton. Sementara bulan lalu hanya 33,66 juta ton.

Meskipun begitu naiknya harga batu bara terutama karena kebutuhan China yang meningkat berpeluang kembali mengerek harga batu bara acuan (HBA) RI lebih lanjut. Besar kemungkinan HBA untuk bulan Juni tembus US$ 90/ton.


[Gambas:Video CNBC]

(trp/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading