Waduh... Bitcoin Bikin Uang Hilang Rp 4.007 T

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
19 May 2021 14:42
FILE PHOTO - A small toy figure is seen on representations of the Bitcoin virtual currency in this illustration picture, December 26, 2017. REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Bitcoin kembali melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Rabu (19/5/2021) hari ini, melanjutkan aksi jual besar-besaran yang dimulai seminggu yang lalu.

Berdasarkan data dari Investing pada pukul 13:16 WIB, harga salah satu komoditas kripto paling populer di dunia itu ambles hingga 12,25%% ke level US$ 39.812,50 atau setara dengan Rp 569 juta. Sekitar US$ 280 miliar atau Rp 4.007,49 triliun menguap dari pasar kripto.

Bahkan pada perdagangan tengah hari tadi, harga Bitcoin sempat ambruk hingga 13% ke level US$ 38.585.86, berdasarkan data dari CoinDesk, dan menjadi level terendah sejak 9 Februari lalu.


Sentimen negatif yang telah hadir selama sepekan terakhir menjadi pemberat Bitcoin selama ini. Pada Rabu (12/5/2021) lalu, CEO Tesla Elon Musk mengatakan bahwa ia telah menangguhkan Bitcoin dapat menjadi alat pembayaran untuk membeli mobil Tesla, dikarenakan adanya dampak lingkungan yang serius seiring masifnya proses penambangan Bitcoin.

Di sinilah komputer bertenaga tinggi digunakan untuk memecahkan algoritma matematika yang kompleks untuk menambah jumlah Bitcoin yang beredar di pasar dan memungkinkan untuk transaksi menggunakan bitcoin.

Akibat komentar Musk terkait hal tersebut, tak hanya Bitcoin saja yang kehilangan dayanya, tetapi hampir seluruh mata uang kripto utama juga turut turun hingga lebih dari US$ 300 miliar.

Ironisnya, pengumuman dibatalkannya pembayaran dengan Bitcoin datang hanya tiga bulan setelah Tesla mengungkapkan bahwa mereka membeli Bitcoin senilai US$ 1,5 miliar dan akan mulai menerima bitcoin sebagai imbalan atas produknya.

Namun pada awal pekan ini, Musk mengklarifikasi bahwa perusahaan belum menjual Bitcoin yang ia miliknya.

Adapun sentimen negatif lainnya yang juga dapat menjadi pemberat gerak harga Bitcoin dan lain-lainnya pada hari ini adalah tiga badan industri keuangan China yang resmi menyatakan bahwa lembaga keuangan, termasuk perbankan dan saluran pembayaran online dilarang menawarkan layanan apapun yang berkaitan dengan kripto kepada kliennya.

Layanan tersebut mencakup pendaftaran, perdagangan kliring, penyelesaian, dan penukaran ke uang fiat. Adapun tiga badan industri keuangan tersebut yakni Asosiasi Keuangan Internet Nasional China, Asosiasi Perbankan China, dan Asosiasi Pembayaran dan Kliring China.

Larangan tersebut bukanlah hal yang baru di China. Pada tahun 2017, pihak berwenang menutup pertukaran mata uang kripto lokal dan melarang kegiatan yang disebut Initial Coin Offering (ICO) atau dapat dikatakan sebagai proses IPO bagi koin digital baru.

Trader di Cina pernah menjadi penggerak sebagian besar pasar Bitcoin, tetapi setelah tindakan keras tersebut pengaruh dari para trader pun berkurang secara signifikan.

Namun secara tahun berjalan (year-to-date/YTD), Bitcoin masih mengalami penguatan lebih dari 40%. Sementara selama setahun terakhir, Bitcoin masih melesat hingga 320%.

Akankah Bitcoin berakhir di level bottomnya?

Bitcoin sudah ambruk hingga 39% dari level tertinggi sepanjang masa di US$ 64.829,14 yang dicapai pada pertengahan April lalu.

Vijay Ayyar, kepala pengembangan bisnis di bursa cryptocurrency Luno mengatakan bahwa penurunan dikisaran 30% hingga 40% masih terbilang wajar, selama Bitcoin bisa membentuk kembali tren bullish-nya.

"Jadi, saya mengharapkan bahwa Bitcoin kembali mencapai level US$ 64.000, kami perkirakan bahwa level bottom Bitcoin berada dikisaran US$ 38.000 - US$ 40.000," kata Ayyar, dikutip dari CNBC International.

Sementara itu, Manajer Investasi Galaxy Digital, Mike Novogratz mengatakan kepada CNBC International pada Selasa kemarin bahwa dia memperkirakan Bitcoin akan berkonsolidasi di kisaran level US$ 40.000 - US$ 55.000.

"Kami tidak hanya menebak-nebak. Kami melihat institusi mulai masuk, walaupun hal itu mungkin memerlukan beberapa waktu," kata Novogratz, sebagaimana dilansir dari CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading