Heboh GoTo Mau IPO, Yakin Banyak yang Beli Sahamnya?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
19 May 2021 13:15
Gojek dan Tokopedia Bentuk GoTo (Dok. GoTo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah pelaku pasar mulai angkat bicara mengenai rencana perusahaan teknologi Gojek-Tokopedia untuk melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) di pasar saham Indonesia. Berbagai pertimbangan muncul dengan adanya rencana tersebut, terlebih ini sudah dikonfirmasi langsung oleh manajemen perusahaan.

Setelah GoTo lahir tujuan berikutnya ialah rencana IPO di pasar modal. Hal ini secara blak-blakan disampaikan oleh CEO Gojek Kevin Aluwi dan CEO Tokopedia William Tanuwijaya dalam wawancara eksklusif dengan CNBC Indonesia TV.

"Kami juga punya rencana melantai ke bursa dalam waktu dekat," kata Kevin, Selasa (18/5/2021).


Lebih lanjut, William menyebutkan bahwa rencana IPO ini akan dilakukan secara dual listing atau tercatat di dua bursa saham sekaligus, salah satunya adalah di Bursa Efek Indonesia (BEI) namun tapi menyebut bursa lain yang akan menjadi tujuan perusahaan.

"Ini mimpi kami yang terpendam lama karena harus diwujudkan karena mimpi kami mitra driver dan merchant, khususnya seluruh pengguna kami bisa jadi pemegang saham kami. Prioritas kami bisa melantai di bursa Indonesia, dual listing, semoga bisa diwujudkan di tahun ini," kata William di kesempatan yang sama.

Meski belum memaparkan rencana IPO-nya secara lebih terperinci, tapi kalangan pelaku pasar mengakui sudah menantikan realisasi aksi korporasi ini.

Seperti yang diutarakan Direktur Utama PT Star Asset Management Reita Farianti yang menyebut bahwa kabar ini merupakan katalis positif bagi pasar saham dalam negeri dan sangat ditunggu-tunggu oleh investor, terutama oleh fund manager di Indonesia.

Dia menilai saat ini dalam bisnis global tengah terjadi disrupsi teknologi yang menghasilkan produktivitas dan efisiensi tinggi dan berpotensi untuk menghasilkan pertumbuhan bisnis yang juga tinggi atau new economy.

"Karena perusahaan-perusahaan berbasis teknologi tersebut dapat menghasilkan pertumbuhan bisnis yang jauh diatas rata-rata perusahaan konvensional biasa atau yang biasa disebut "old economy", investor akan cenderung berinvestasi pada perusahaan "new economy" dan mulai meninggalkan perusahaan "old economy" jika mereka tidak mampu beradaptasi," terang dia kepada CNBC Indonesia pekan ini.

Tren investasi pada perusahaan-perusahaan teknologi sebenarnay telah menjadi hal yang lumrah di negara-negara maju, seiring dengan banyaknya juga perusahaan sejenis yang melantai di pasar modal.

Dia menyebut tren ini juga mulai muncul di Indonesia, namun sayangnya tak banyak pilihan untuk saham-saham teknologi dengan kapitalisasi besar dan berkontribusi besar terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

"Hal tersebut yang membuat investor secara umum maupun fund manager sangat tertarik untuk membeli IPO perusahaan teknologi raksasa tersebut," ungkap dia.

Namun, mau tak mau pertimbangan fundamental perusahaan teknologi ini memang masih menjadi sorotan bagi pelaku pasar. Bagaimana tidak, perusahaan teknologi ini masih terkenal dengan strategi 'bakar uang'-nya untuk menarik perhatian publik yang mau tak mau akan berdampak pada kinerja bukunya yang masih merah.

Hal ini juga diungkapkan oleh investor institusi dalam negeri, yakni Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI).

Ketua ADPI Suheri mengatakan untuk menginvestasikan dana kelolaannya, masing-masing dana pensiun memiliki kriterianya masing-masing.

Terdapat dua hal yang menjadi perhatian khusus bagi para dana pensiun ini untuk menempatkan dananya secara umum, yakni posisi perusahaan dalam indeks yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan kinerja keuangannya.

"Setiap dapen punya kriteria masing-masing. Jika mereka mengacu pada index IDX, mungkin mau tak mau harus ikutan, tapi kalau yang dilihat bottom line-nya bisa ngga ikut. Jadi ngga bisa digeneralisir," ungkap dia.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading