Analisis Teknikal

Tekanan Belum Berakhir, Awas Rupiah Berisiko ke Rp 14.370/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
18 May 2021 08:50
Ilustrasi Dollar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah membukukan penguatan 4 pekan beruntun rupiah akhirnya anjlok melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin kemarin (17/5/2021).

Risiko lonjakan kasus penyakit virus corona (Covid-19) membuat rupiah melemah hingga 0,6% ke Rp 14.280/US$ kemarin. Dengan kondisi tersebut, rupiah masih akan tertekan pada hari ini, Selasa (18/3/2021).

Pasca libur Lebaran, pelaku pasar malah dibuat cemas akan virus corona. Sebab, meski sudah dilarang, masih banyak warga yang mudik Lebaran, begitu juga tempat-tempat wisata yang penuh. Hal tersebut tentunya berisiko meningkatkan kasus Covid-19.


Apalagi Singapura, Malaysia, dan Taiwan kembali mengetatkan pembatasan sosial bahkan menerapkan lockdown.

Saat kondisi tersebut, dolar AS yang dianggap sebagai safe haven tentunya akan diuntungkan. Apalagi pada pekan lalu data dari AS menunjukkan inflasi yang sangat tinggi. Jika berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, tentunya akan menjadi pertimbangan bagi bank sentral AS (The Fed) untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dari proyeksi sebelumnya.

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR kini kembali ke atas rerata pergerakan 100 hari (moving average 100/MA 100). Yang tentunya membuka ruang pelemahan lebih lanjut setelah menguat 4 pekan beruntun.

Rupiah mampu menguat sejak pertengahan April lalu setelah munculnya stochastic bearish divergence. Stochastic dikatakan mengalami bearish divergence ketika grafiknya menurun, tetapi harga suatu aset masih menanjak.

Munculnya stochastic bearish divergence kerap dijadikan sinyal penurunan suatu aset, dalam hal ini USD/IDR bergerak turun, atau rupiah akan menguat.
Namun, pada grafik harian Stochastic sudah memasuki wilayah jenuh jual (oversold). 

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv 

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Artinya, indikator Stochastic akan membatasi penguatan bahkan kemungkinan memicu koreksi. Ditambah dengan posisi rupiah kembali ke atas MA 100 risiko koreksi menjadi lebih besar.

MA 100 di kisaran Rp 14.240 hingga Rp 14.250/US$ kini menjadi support terdekat. Selama tertahan di atasnya rupiah berisiko melemah ke 14.310/US$. Jika level tersebut juga dilewati rupiah akan semakin lemah menuju MA 200 di kisaran Rp 14.360 hingga Rp 14.370/US$.

Sementara jika mampu menembus ke bawah MA 100 lagi, rupiah punya peluang menguat ke 14.200/US$.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading