Kalem! Harga Bitcoin cs Ambruk Semua, Dogecoin Drop 17%

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
11 May 2021 09:40
Infografis/Jangan Asal Beli, kenali Dulu 3 Mata Uang Kripto yang sedang Booming/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang kripto (cryptocurrency) pada perdagangan Selasa (11/5/2021) pagi hari ini terpantau mayoritas melemah.

Berdasarkan data dari Investing pukul 09:00 WIB, harga Bitcoin merosot 5,36% ke level harga US$ 55.600,20 atau setara dengan Rp 789.522.840, Ether (Ethereum) juga melemah 0,74% ke US$ 3.904,16 atau Rp 55.439.072.

Berikutnya Litecoin ambrol 11,15% ke US$ 358,35 atau setara Rp 5.088.556, Chainlink terjatuh 9,47% ke US$ 46,56 atau Rp 661.152, Ripple ambles 10,46% ke posisi US$ 1,41 atau setara dengan Rp 20.011, dan Cardano merosot 8,41% ke US$ 1,64 atau Rp 23.229.


Sementara untuk kripto Dogecoin pagi hari ini juga ambruk hingga 17,47% ke posisi US$ 0,46 atau setara dengan Rp 6.548.

Cryptocurrency tertua di dunia, Bitcoin kembali turun ke level US$ 53.500 di pasar spot seperti Bitstamp pada perdagangan Senin (10/5/2021) sekitar pukul 21:00 waktu setempat atau setelah pasar keuangan konvensional di Amerika Serikat (AS) ditutup.

Harga Bitcoin telah turun lebih dari 5% dalam 24 jam terakhir karena adanya aksi jual oleh investor.

Sementara itu, Ether (Ethereum), mata uang kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, diperdagangkan sekitar US$ 4.016 per pukul 21:00 waktu setempat, naik 4,5% selama 24 jam sebelumnya.

"Ethereum telah mendorong pertumbuhan yang stabil dan mencapai tertinggi baru sepanjang masa, meskipun hal ini terhalang oleh kenaikan di pasar alt," kata Friedman.

Namun pada pagi hari ini, Ethereum kembali melemah, setelah selama 24 jam berhasil mencapai level tertinggi barunya.

Adapun untuk Dogecoin pada pagi hari ini juga masih melanjutkan koreksinya, setelah pada Sabtu (8/5/2021) akhir pekan lalu sempat melesat tinggi dan pada Minggu (9/5/2021), Dogecoin pun berbalik arah dan ambruk hingga hampir 30%.

Pelemahan kripto pada pagi hari ini terjadi setelah bursa saham AS, Wall Street berakhir berjatuhan pada perdagangan Senin (10/5/2021) waktu setempat, karena aksi jual saham teknologi. Saham Tesla drop hingga 6%, yang membuat indeks Nasdaq Composite ditutup ambruk hingga 2%.

Pemicu lainnya adalah data tenaga kerja April yang jauh lebih lemah dari ekspektasi, dengan hanya 266.000 gaji baru atau jauh dari ekspektasi dalam polling Dow Jones yang memperkirakan 1 juta slip gaji baru. Pasar pun bertaruh bahwa kebijakan moneter ekstra longgar bakal dipertahankan.

Mike Wilson, Kepala Perencana Saham Morgan Stanley, menilai pelaku pasar sudah memfaktorkan pembukaan ekonomi di tengah penurunan kasus Covid-19 dalam reli kemarin. Kabar apapun yang membalikkan ekspektasi itu akan memukul pasar saham.

"Kita melihat pertarungan antara ekspektasi dan realitas di mana pasar sekarang memfaktorkan pembukaan ekonomi. Berdasarkan basis kumulatif, penjualan ritel sudah melampaui angka sebelum adanya Covid-19," tulis Wilson seperti dikutip CNBC International.

Pelaku pasar akan memantau rilis data inflasi. Investor khawatir bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) bakal dipaksa untuk mengubah kebijakan uang longgarnya menjadi lebih ketat, demi mengendalikan inflasi yang bisa membahayakan pemulihan ekonomi nanti.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading