PGN Optimalkan Gas Bumi Untuk Transisi ke Renewable Energy

Market - Rahajeng KH, CNBC Indonesia
29 April 2021 18:23
PGN (Tangkapan Layar)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS/PGN) melakukan berbagai upaya memaksimalkan peran sebagai Subholding Gas untuk mampu menjaga kehandalan dan keberlanjutan energi gas bumi. Khususnya di era normal saat ini, setelah melewati masa krisis tahun 2020 lalu akibat dampak pandemi Covid-19 dan transisi menuju renewable energy.

Komisaris Utama PGN Arcandra Tahar mengatakan pandemi membuat penurunan demand energi termasuk gas bumi yang cukup signifikan. Meski demikian tahun ini bisa menjadi momen perusahaan untuk dapat bangkit kembali untuk melakukan ekspansi bisnis gas bumi termasuk LNG Retail. Mengingat adanya peluang besar akan permintaan gas yang meningkat di tahun-tahun mendatang.

"Menurut Wood Mckenzie, benar bahwa kebutuhan gas di tahun 2020 turun. Tapi pada tahun 2030, akan ada peningkatan sekitar 550 juta ton per tahun seiring dengan perkembangan proyek gas yang ada," ujar Komisaris Utama PGN Arcandra Tahar dalam Gasfest Conference 2021, Rabu (28/04/2021).


Arcandra melanjutkan bahwa kebutuhan LNG dunia untuk 10 tahun yang akan datang juga masih positif. Kebutuhan LNG dan gas tetap akan naik walaupun dengan perkembangan renewable energy yang akan menggantikan sebagian demand dari energi.

"Ada risikonya kalau virus belum mampu diatasi pada tahun 2021, kebutuhan demand yang digambarkan tidak akan tercapai. Namun demikian, kita berharap dengan perkembangan proyek, vaksin, dan sebagainya, kebutuhan LNG akan naik. Kemungkinan besar akan menyamai seperti sebelum Covid-19 terjadi, diiringi dengan menggeliatnya ekonomi di tahun 2021," papar Arcandra.

Harapan untuk PGN adalah industri gas akan tetap tumbuh. Apalagi fas adalah salah satu bentuk energi yang dibutuhkan dalam masa transisi dari fosil fuel menuju renewable energy.

"Kita tidak bisa langsung memenuhi kebutuhan energi dari fosil fuel ke renewable energy secara serta merta. Harus ada perantaranya salah satunya adalah gas," tambahnya.

Salam kesempatan yang sama, Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Syahrial Mukhtar menambahkan akibat pandemi Covid-19, kebutuhan gas termasuk LNG di Asia Pasifik mengalami penurunan. Namun seiring pemulihan ekonomi dan peningkatan kegiatan, sudah mengalami kenaikan permintaan. Dengan momentum di 2021 sudah mulai rebound dapat menjadi kesempatan, meski belum sepenuhnnya mencapai angka seperti sebelum pandemi.

Deangan skenario pasca pandemi yang dilakukan dengan ada pertumbuhan Global LNG sekitar 4,2% berdasarkan data Bloomberg. Negara-negara seperti China dan India adalah dua negara yang sangat concern terhadap energi yang lebih ramah lingkungan. Hal itu akan meningkatkan demand energi di masa yang akan datang.

"Merupakan tanggung jawab besar bagi PGN dalam mengelola bisnis gas nasional untuk memenuhi kebutuhan gas domestik. LNG akan berperan semakin besar untuk menjaga kehandalan pasokan gas untuk konsumen di seluruh sektor," ujar Syahrial.

PGN (Tangkapan Layar)Foto: PGN (Tangkapan Layar)

PGN menerapkan konsep multisource dan multidestination untuk menjaga kehandalan. Konsep tersebut memudahkan konsumen gas mendapatkan gas dari PGN tanpa ketergantungan dengan sumber hulu tertentu

Bagi PGN, LNG retail termasuk ke dalam bisnis baru di mana akan dikembangkan penyediaan infrastruktrur dan asset-asset yang dibutuhkan. Mengingat di Indonesia banyak daerah yang belum terjangkau gas, sehingga dengan dengan pengembangan bisinis LNG akan mampu mencapai pelanggan-pelanggan potensial menggunakan virtual pipeline.

"Infrastruktur LNG di masa depan akan massif terutama dengan proyek penugasan Kepmen 13 di wilayah Indonesia Timur, serta mendukung program strategis perusahaan untuk dapat merambah di pasar LNG internasional," ujar Syahrial.

Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto optimistis prospek yang positif peprmintaan gas di masa transisi energi. Dia juga mendukung upaya-upaya eksplorasi dan pemanfaatan gas bumi. Cadangan gas bumi kurang lebih ada 43,6 TCF sehingga diharapkan mampu mengatasi krisis energi fosil yaitu minyak di masa depan.

Gas bumi pun dapat menjadi perantara di masa transisi energi menuju renewable energy dan dapat menjadi peaker di saat-saat tertentu khususnya untuk pembangkit listrik. Selain itu, ada pertumbuhan LNG di tahun 2035 yang diperkirakan dari China, ASEAN, dan Asia Selatan seperti Bangladesh dan Pakistan. Thailand sebagai salah satu negara dengan konsumsi gas cukup tinggi Asia Tenggara, ke depan demand LNG-nya juga akan meningkat.

Manager Internasional Business Strategy and Development Department PTT Public Company Limited Paramete Hoisungwan mengatakan produksi gas domestik dan tambahan supply gas dari Myanmar di Thailand ke depan akan mengalami penurunan, sehingga membutuhkan pasokan tambahan LNG. Tren demand LNG terus meningkat sekitar 4500 - 5000 MMSCFD sampai tahun 2048.

"Pemerintah mendorong untuk meningkatkan supply gas dengan mengimpor LNG dan memberikan mandat kepada PTT untuk mengembangkan infrastruktur LNG Receiving Terminal dengan kapasitas sekitar 7,5 MTPA yang akan selesai pada 2022. Dengan begitu, diharapkan dapat memenuhi demand gas yang tinggi dan mendorong pengelolaan gas dan LNG yang baik untuk mendukung ekonomi," ujar Paramete.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ternyata Ini Pemicu Laba PGN Melonjak 29% Jadi Rp 870 M di Q1


(rah/rah)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading