Harga Amonia Naik, Laba Surya Esa Melesat 520% di Q1-2021

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
23 April 2021 10:45
Direksi Surya Esa Perkasa/Sep.co.id

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten kilang LPG dan produsen Amonia milik pengusaha TP Rachmat, PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA), membukukan perolehan laba bersih sebesar US$ 6,40 juta atau sebesar Rp 92,92 miliar dengan asumsi kurs Rp 14.500 per US$ sampai dengan periode kuartal pertama tahun ini.

Jumlah ini naik signifikan dari perolehan laba bersih di periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 1,03 juta setara Rp 14,99 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 519,76%.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi interim yang tidak diaudit per 31 Maret 2021, ESSA berhasil membukukan pendapatan sebesar US$ 68,5 juta, meningkat sebesar 8,86% dibandingkan pada kuartal I-2020 sebesar USD 62,9 juta. Pendapatan Amonia meningkat 11,8% di kuartal I-2021 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.


Hal ini turut berpengaruh terhadap kenaikan pendapatan ESSA yang sebagian besar kontribusi penjualannya berasal dari segmen Amonia sebesar 86% lalu diikuti oleh segmen LPG sebesar 14%.

Sedangkan dari sisi operasional, ESSA berhasil mengurangi beban penjualan sebesar 18% dan beban administrasi dan umum turun 17% dari kuartal pertama 2021.

Presiden Direktur ESSA, Vinod Laroya menyatakan, peningkatan pendapatan serta laba bersih ESSA seiring dengan adanya pemulihan kembali harga Amonia secara tajam sejak Januari 2021.

"Kenaikan harga Amonia tersebut didorong oleh hambatan pasokan serta karena sektornya memasuki masa awal pemulihan permintaan. Ke depan, ESSA akan terus meningkatkan kinerjanya seiring dengan pemulihan harga dan permintaan di pasar global," katanya, dalam keterangan resmi, Jumat (23/4/2021).

Amonia banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk, plastik, dan bahan kimia di seluruh dunia. Namun demikian, perkiraan permintaan Amonia saat ini belum mempertimbangkan peran Amonia sebagai alternatif bahan bakar masa depan karena kandungan hidrogennya yang tinggi, nol emisi CO2 pada saat pembakaran, serta pengiriman logistik yang dapat diandalkan.

Seiring dengan adanya peningkatan permintaan Amonia global, ESSA melihat sumber tambahan untuk pengembangan permintaan amonia melalui Amonia Biru yang saat ini juga memperlihatkan prospek yang cukup signifikan.

Oleh karena itu pada Maret 2021 lalu, Perseroan bekerjasama dengan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation, Mitsubishi Corporation, dan Institut Teknologi Bandung melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang Pengumpulan, Pemanfaatan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture, Utilization & Storage /CCUS) untuk produksi Amonia Biru di Indonesia di Pabrik Amonia di Banggai, Sulawesi Tengah.

Pada Maret 2021 melalui anak perusahaannya, PT Panca Amara Utama (PAU), ESSA juga membiayai kembali pinjaman jangka panjang sebesar US$ 495 juta.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Batu Bara Naik, tapi Indika Akhir 2020 Masih Rugi


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading