Gawat! Investor RI Mulai Ogah Belanja Saham, Ini Penyebabnya

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
20 April 2021 16:55
Ilustrasi IHSG (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bahana Sekuritas menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan belum kemana-mana dan cenderung tertekan. Penyebab utamanya adalah pasar saham dalam negeri yang sekarang sepi peminat.

Dalam risetnya, Analis Bahana Sekuritas Hadi Soegiarto mengatakan saat ini IHSG hanya akan bergantung pada aliran dana dari investor asing (capital inflow). Pasalnya investor dalam negeri, baik itu investor institusi maupun investor ritel saat ini kemampuan belinya mulai menurun.

Hal yang diharapkan oleh pasar dalam negeri adalah masuknya kembali investor asing, sebab aksi jual (net sell) telah dilakukan investor asing sejak 2017 dan meninggalkan kepemilikan asing hingga 38% di paser ekuitas dalam negeri per Maret 2021.


Namun dalam waktu bersamaan, di pasar global saat ini akan dihadapkan dengan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dari sejumlah perusahaan teknologi terkemuka. Sebut saja Gojek, Grab dan Traveloka.

Sehingga dana asing sudah antre untuk masuk ke saham-saham tersebut. Apalagi Gojek dan Grab saat ini setara dengan perusahaan terbesar ke-6 dan ke-7 di Indonesia dan keduanya akan mencatatkan saham di luar negeri.

"Mereka akan menyaingi perusahaan-perusahaan besar di Indonesia (Gojek sendiri dapat memiliki berat setengah atau sebanyak TLKM di JCI tergantung pada float), dan menawarkan eksposur ke sektor teknologi panas Indonesia di luar IHSG," tulis riset tersebut, dikutip Selasa (20/4/2021).

"Untuk saat ini, investor asing mungkin memiliki likuiditas, mengingat pencatatan Ant Financial dibatalkan. Indonesia mungkin masih memiliki tema yang menarik - pemulihan pertumbuhan pasca pandemi, tetapi kemungkinan akan membutuhkan waktu untuk merayu investor."

Sementara itu saat ini investor institusi dalam negeri saat ini mulai mengalami keterbatasan kemampuan beli. Sebab dua tahun terakhir, investor ini telah menjadi 'bumper' melawan net sell yang dilakukan oleh investor asing. Investor institusi ini termasuk perusahaan asuransi dan fund manager serta pengelola dana jaminan sosial.

Saat ini investor institusi yang memiliki keterbatasan dana ini juga tengah menantikan IPO Gojek, yang akan dilakukan dual listing, dan akan memiliki bobot hingga 8% ke pasar dalam negeri.

Sedang pengelola dana jaminan sosial saat ini memilih untuk mengurangi eksposur investasinya di saham untuk jangka menengah. Padahal, perannya sangat besar di pasar hingga bisa menstabilkan pasar saat terjadi koreksi.

Sedangkan investor ritel saat ini masih 'rehat' pada Maret dan April, setelah mengalami periode kenaikan pasar yang cukup tinggi dan cepat pada kuartal 4-2020 hingga kuartal 1-2021.

"Pada akhir Desember 2020, investor ritel telah melampaui dana institusional domestik dalam pengaruh pasar, tetapi perhatikan bahwa gaya investasi mereka condong ke saham menengah dan kecil yang bergejolak, yang mungkin kurang relevan bagi investor institusional," tulis Hadi.

Untuk itu, Bahana merekomendasikan investor untuk bersikap defensif dalam waktu dekat. Sentimen positif yang akan memengaruhi pasar adalah program vaksinasi massal yang berhasil dan pemulihan ekonomi pasca pandemi.

Namun sayangnya vaksinasi ini diperkirakan baru akan rampung pada kuartal 2-2021 untuk mencapai 85%. Selain itu faktor ketersediaan vaksin juga menimbulkan ketidakpastian.

Kedua sentimen ini dinilai akan sangat memengaruhi appetite investor asing. Namun perlu diperhatikan kondisi tingkat suku bunga global yang bergejolak dan nilai tukar Rupiah yang dapat membatasi kenaikan IHSG.

Sekuritas ini merekomendasikan saham-saham yang defensif terhadap kondisi pandemi untuk saat ini, seperti ICBP, INDF, KLBF, dan TLKM. Saham lainnya yang dinilai defensif adalah MYOR meskipun valuasinya kurang menarik.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading