Nyaris Gocap, Saham BKSL Ambles Setelah Jual AEON Sentul City

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
20 April 2021 10:28
AEON Mall Sentul (Ist/Aeonmallsentulcity)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten properti PT Sentul City Tbk (BKSL) bergerak di zona merah pada perdagangan sesi 1 Selasa (20/4/2021), setelah perseroan melakukan penjualan Mall AEON Sentul City kepada PT AEON Mall Indonesia senilai Rp 1,9 triliun.

Saham BKSL pun ambles hingga 5,26% ke level Rp 54/saham pada pukul 10:18 WIB. Nilai transaksi saham BKSL mencapai Rp 14 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 260 juta lembar saham. Seiring dari aksi jual Mall AEON, investor asing pun melepas saham BKSL sebesar Rp 17 juta di pasar reguler.

Sebelumnya, perseroan telah menjual Mall AEON Sentul City kepada PT AEON Mall Indonesia senilai Rp 1,9 triliun. Pengumuman ini disampaikan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.


Dalam surat yang disampaikan Sentul City, disebutkan penjualan itu dilakukan pada 15 April 2021.

"Perseroan akan memperoleh dana untuk membiayai kegiatan operasional, memenuhi perjanjian dan memperbaiki kas untuk kelangsungan usaha," kata Presiden Direktur Sentul City Tjetje Muljanto, dalam keterbukaan informasi, Senin (19/04/2021).

Sementara itu, Presiden Komisaris Sentul City, Basaria Panjaitan mengatakan, penjualan ini terjadi karena Aeon Jepang sebagai investor asing melalui PT Aeon Mall Indonesia melihat prospek bisnis yang sangat baik di kawasan hunian Sentul City.

"Bagi perseroan sendiri dana dari hasil akuisisi/penjualan ini akan dimaanfaatkan untuk melunasi pinjaman ke PT Bank BNI Tbk sebesar Rp 900 miliar," kata Basaria.

Jika menelisik kinerja keuangannya, perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp 325 miliar pada kuartal III-2020.

Perseroan merugi karena Pendapatan neto yang anjlok dari Rp 540 miliar menjadi Rp 247 miliar sementara beban operasi lainya naik dari Rp 61 miliar menjadi Rp 186 miliar sementara beban keuangan juga ikut terbang dari Rp 104 miliar menjadi Rp 169 miliar.

Melesatnya beban keuangan BKSL salah satunya akibat hutang jangka pendek BKSL yang cukup besar. Tercatat per September 2020 BKSL memiliki liabilitas jangka pendek mencapai Rp 3,4 triliun. Dengan kas dan setara kas yang hanya tersisa Rp 201 miliar, wajar apabila perseroan terpaksa menjual mal miliknya.

Adapun naiknya utang perseroan terjadi di pos liabilitas jangka pendek lainnya, yakni pembayaran utang kepada pihak ketiga, yang jika ditotal sebesar Rp 1,3 triliun, naik dari sebelumnya sebesar Rp 1,17 triliun.

Adapun pembayaran utang kepada pihak ketiga per kuartal III-2020 yang jumlahnya cukup besar adalah kepada PT Bintang Harapan Desa sebesar Rp 234 miliar, PT Daya Kharisma Nusantara sebesar Rp 218 miliar, dan Golden Capital Foundation Limited sebesar Rp 239 miliar.

Apalagi sejatinya pendapatan berulang (recurring income) BKSL tidak begitu signifikan apabila dibandingkan dengan pendapatanya dari penjualan properti dan lain sebagainya.

Tercatat pos pendapatan hotel, restoran, taman hiburan, dan lain sebagainya hanya menyumbang Rp 64 miliar dari Rp 247 miliar pendapatan neto perusahaan. Pendapatan bersih perseroan dari pos ini pun hanya mencapai Rp 30 miliar.

Pendapatan perseroan yang utama masih disumbangkan oleh pos penjualan lahan siap bangun, rumah hunian, ruko, dan apartemen yang meraup pendapatan Rp 114 dengan beban yang tergolong kecil di angka Rp 114 miliar.

Sedangkan pendapatan operasi lainya juga tergolong kecil dimana sewa hanya mendatangkan pendapatan sebanyak Rp 874 juta.

Dana dari hasil penjualan aset ini nantinya akan mengurangi secara signifikan liabilitas perseroan. Selain itu penjualan mall ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kinerja keuangan perseroan pada kuartal kedua di tahun ini dan membantu arus kas perusahaan.


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading