Gainers-Losers

Sesi I, Saham BFIN dan RS Omni Kompak Jadi Top Losers

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
19 April 2021 13:29
Patrick Walujo - Jerry Ng (CNBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten multifinance PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) ambles menjadi top losers pada sesi I, Senin (19/4/2021). Ini terjadi seiring manajemen PT Bank Jago Tbk (ARTO) menyangkal akan mengakuisisi saham BFIN.

Setali tiga uang, saham emiten pengelola rumah sakit Omni Hospitals, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), juga anjlok ke zona merah sebagai 'pecundang' pada siang ini.

Setelah 3 hari membukukan reli kenaikan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah hari ini. IHSG merosot 0,54% ke posisi 6.053,59 pada penutupan sesi I perdagangan, Senin (19/4).


Menurut data BEI, ada 218 saham naik, 241 saham merosot dan 165 saham stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp 5,02 triliun dan volume perdagangan mencapai 9,3 miliar saham.

Investor asing pasar saham keluar dari bursa Tanah Air dengan catatan jual bersih asing mencapai Rp 101,94 miliar di pasar reguler. Sementara, asing mencatatkan beli bersih di pasar negosiasi dan pasar tunai sebesar Rp 30,84 miliar.

Berikut 5 saham top gainers dan losers sesi I hari ini (19/4).

Top Gainers

  1. Sidomulyo Selaras (SDMU), saham +34,00%, ke Rp 67, transaksi Rp 6,1 M

  2. Agro Yasa Lestari (AYLS), +26,67%, ke Rp 114, transaksi Rp 8,5 M

  3. Tanah Laut (INDX), +25,20%, ke Rp 154, transaksi Rp 5,5 M

  4. Yelooo Integra Datanet (YELO), +12,62%, ke Rp 116, transaksi Rp 9,5 M

  5. Saranacentral Bajatama (BAJA), +11,86%, ke Rp 264, transaksi Rp 6,1 M

Top Losers

  1. Sarana Meditama Metropolitan (SAME), saham -6,19%, ke Rp 530, transaksi Rp 49,1 M

  2. Kapuas Prima Coal (ZINC), -5,84%, ke Rp 129, transaksi Rp 83,6 M

  3. Indah Kiat Pulp and Paper (INKP), -5,54%, ke Rp 9.375, transaksi Rp 62,1 M

  4. BFI Finance Indonesia (BFIN), -5,19%, ke Rp 730, transaksi Rp 91,6 M

  5. Bank Bumi Arta (BNBA), -4,90%, ke Rp 970, transaksi Rp 25,3 M

Berdasarkan data di atas, saham emiten penyedia jasa transportasi bahan kimia beracun SDMU bangkit dari level Rp 50/saham dengan melesat 34% menjadi top gainers di Rp 67/saham.

Tercatat saham emiten yang melantai sejak 2011 ini terakhir bergerak pada 12 Januari 2021, ketika merosot dari Rp 51/saham ke Rp 50/saham. Adapun dalam enam bulan atau bahkan setahun terakhir, saham 'tidur' ini sempat mencapai harga tertinggi di Rp 90/saham, yakni pada 8 Desember 2020.

Berbeda dengan SDMU, saham emiten pengelola RS Omni Hospitals, SAME, malah ambles 6,19% ke Rp 530/saham. Pada penutupan Jumat pekan lalu (16/4), saham SAME menguat 0,89% ke Rp 565/saham.

Menariknya, setidaknya dalam sebulan terakhir, saham ini ambles empat kali pada hari Senin, yakni pada 29 Maret, 5, 12 dan 19 April.

Adapun kinerja keuangan SAME sepanjang tahun lalu memang tertekan. Menurut laporan keuangan yang terbit di website BEI, rugi bersih perusahaan semakin dalam menjadi Rp 449,46 miliar pada 2020. Sementara, pada tahun sebelumnya rugi bersih SAME sebesar Rp 114,38 miliar.

Makin amblesnya rugi bersih SAME seiring dengan menurunnya pendapatan perusahaan dari Rp 529,32 miliar pada 2019 menjadi Rp 507,62 miliar.

Selain SAME, saham emiten multifinance BFIN juga menjadi 'pecundang' siang ini. Saham BFIN terjungkal 5,19% ke Rp 730/saham siang ini.

Kendati memerah, asing tercatat melakukan aksi beli bersih sebesar Rp 2,09 miliar. Adapun nilai transaksi BFIN sebesar Rp 91,63 miliar.

Sebelumnya, dilansir CNBC Indonesia, dalam penjelasannya kepada BEI, Corporate Secretary Bank Jago, Tjit Siat Fun, menegaskan perseroan sampai dengan saat ini belum ada rencana melakukan aksi korporasi untuk melakukan akuisisi perusahaan.

"Sampai saat ini perseroan tidak mempunyai rencana untuk melakukan pengambilalihan BFI Finance Indonesia," kata Tjit Siat Fun, Senin (19/4/2021).

Perseroan, katanya, juga tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan atau keputusan investasi pemodal sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan nomor 31/POJK.04/2015 tentang Keterbukaan Informasi atau Fakta Material Oleh Emiten Atau Perusahaan Publik.

Dia juga menambahkan, sampai dengan saat ini belum ada Informasi/ fakta/ kejadian penting lainnya yang bersifat material dan dapat mempengaruhi harga efek perseroan yang belum diungkapkan kepada publik.

Seperti diketahui, sebelumnya, Bank Jago dikabarkan akan mengakuisisi BFI Finance Indonesia, perusahaan yang juga dikendalikan oleh Northstar Pacific milik Patrick Sugito Walujo, partner dari bankir senior Jerry Ng.

Berdasarkan informasi yang beredar di kalangan pelaku pasar, BFIN dikabarkan akan diakuisisi oleh Bank Jago pada kisaran harga Rp 850-Rp 900 per saham sebagai angka potential tender offer.

"Berita ini muncul setelah adanya indikasi bahwa Bank Jago akan melebarkan sayap untuk membeli perusahaan leasing company/multifinance," menurut sumber tersebut, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (15/4/2021).

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

 


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading