Ulasan Sepekan

Adem Ayem, Bank Buku 2 Ini Dihajar Aksi Jual & Jadi Top Loser

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
17 April 2021 20:50
Ilustrasi foto bursa efek Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Sentimen positif terkait revolusi digital bank-bank kecil tidak berlaku merata, sebagaimana terlihat dari koreksi yang menimpa salah satu saham bank kecil hingga memuncaki jajaran pencetak koreksi terburuk (top loser).

Menurut data Revinitif, dua dari lima saham yang pekan ini masuk jajaran top loser berasal dari sektor barang konsumer non-primer yakni PT Cahaya Bintang Medan Tbk (CBMF) dan PT Golden Flower Tbk (POLU). Keduanya melemah masing-masing sebesar 24,7% dan 20,2%.

Namun, saham emiten bank menduduki posisi top loser, yakni PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) dengan koreksi sebesar 29,7%. Dua saham lainnya bergerak di sektor jasa keuangan dan properti yakni PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA) dan PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA).


Anjloknya saham BNBA berbalik dari tren di mana harga saham-saham bank kecil (buku I dan buku II) menguat karena spekulasi bahwa bank-bank tersebut tengah memproses aksi korporasi terkait penambahan modal inti.

Spekulasi akuisisi bank kecil untuk pengembangan digital kian marak setelah Sea Group mencaplok PT Bank Kesejahteraan Ekonomi dan mengubahnya menjadi PT Bank Seabank Indonesia (Seabank). Gojek juga menjadi pemegang saham PT Bank Jago Tbk (ARTO).

Sementara itu, bank besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencaplok Rabobank dan diubah menjadi bank digital, bersaing dengan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang mengubah PT BRI Agroniaga menjadi bank digital.

Ke depan, perusahaan fintech akan lebih memilih mengakuisisi bank kecil yang sudah beroperasi ketimbang mengajukan izin bank digital. Pasalnya, pendirian bank digital baru memerlukan modal Rp 10 triliun, sedangkan transformasi bank lama cukup menyediakan modal Rp 3 triliun.

Sesuai ketentuan, Bank Bumi Arta wajib memenuhi modal inti minimum sebesar Rp 2 triliun per tahun 2021 dan Rp 3 triliun per 2022. Namun dalam penjelasan ke bursa pada 8 Maret, perseroan menyatakan tidak ada rencana strategis terkait dengan kewajiban penambahan modal inti minimum sesuai POJK 12/2020.

"Saat ini belum ada investor strategis," demikian penjelasan perseroan, menanggapi pertanyaan otoritas bursa mengenai ada-tidaknya nama investor strategis dan aksi korporasi dalam rangka pemenuhan modal inti.

Penjelasan tersebut menjadi sentimen negatif di pasar bagi saham perseroan, sehingga aksi jual pun melanda, karena ekspektasi adanya lonjakan kinerja menyusul aksi korporasi pun memudar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading