Awal Pekan Kurang Bergairah, Harga CPO Ambles 1,22%

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
12 April 2021 12:55
FILE PHOTO: A truck carrying oil palm fruits passes through Felda Sahabat plantation in Lahad Datu in Malaysia's state of Sabah on Borneo island, February 20, 2013. REUTERS/Bazuki Muhammad/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga komoditas minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) mengalami penurunan pada perdagangan perdana pekan ini Senin (12/4/2021) setelah berhasil menguat 0,8% sepekan lalu. 

Harga kontrak pengiriman Juni yang ramai ditransaksikan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange tersebut melemah 1,22% ke RM 1.721/ton pada sesi istirahat siang. Posisi penutupan akhir pekan lalu berada di RM 3.767/ton. 

Penguatan harga minyak sawit ini cenderung melambat minggu lalu setelah sebelumnya berhasil membukukan apresiasi 1,22% secara mingguan pada pekan sebelumnya. Harga minyak mentah yang cenderung stagnan menjadi salah satu faktor pemicu fluktuasi harga minyak nabati unggulan ekspor RI dan Negeri Jiran ini. 


Outlook harga tahun ini diperkirakan bakal lebih baik dibanding tahun 2020 dengan ketatnya pasokan di tengah mulaimembaiknya permintaan. 

Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Hariyanto Wijaya, dalam risetnya pada 31 Maret lalu, menilai harga CPO kemungkinan akan kembali normal dalam beberapa bulan ke depan, sementara itu harga rata-rata (average selling price/ASP) full year 2021 akan lebih tinggi dari full year 2020.

"Harga spot CPO melonjak dari level terendah RM 2.022/ton pada 12 Mei 2020 menjadi RM 4.183/ton pada 25 Maret 2021 karena terganggunya pasokan minyak nabati karena efek keterlambatan waktu dari El Nino dan fenomena cuaca La Nina baru-baru ini yang menyebabkan tingkat persediaan CPO di Malaysia dan Indonesia, dua negara produsen CPO terbesar, turun ke level rendah," katanya dalam riset, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (8/4/2021).

Dia memaparkan, dalam forum Palm Oil Conference (POC) 2021 pada 24 Maret 2021, tiga peramal CPO terkemuka, yaitu Thomas Mielke, Dr. James Fry, dan Dorab Mistry, sepakat bahwa kenaikan harga CPO tinggi yang tidak biasa saat ini tidak berkelanjutan, dan harus dinormalisasi pada bulan-bulan mendatang.

Dari kisaran CPO yang diramalkan dari ketiga peramal CPO terkemuka tersebut, dapat disimpulkan bahwa meskipun harga CPO dapat dinormalisasi dalam beberapa bulan mendatang, harga jual rata-rata CPO sepanjang 2021 seharusnya lebih tinggi dari full year 2020.

Selain itu, Council of Palm Oil Producing Countries (CPOC) memprediksi, secara keseluruhan, prospek minyak sawit pada tahun 2021 terlihat lebih baik dibandingkan dengan harga rata-rata 2019 dan 2020.

CPOC berujar, hal tersebut akan tergantung pada perkembangan La Nina di kompleks kedelai di Amerika Selatan dan mandat biodiesel B30 Indonesia.

"Implementasi penuh dari mandat B30 di Indonesia dan mandat B20 di Malaysia sangat penting untuk menopang konsumsi domestik dan menyerap yang diantisipasi pertumbuhan pasokan minyak sawit. Situasi defisit dalam minyak nabati global akan mendorong harga CPO memasuki tahun 2021," pungkas CPOC dalam sebuah laporan berjudul Palm Oil Supply and Demand Outlook Report 2021.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading