Bursa Asia Mayoritas Hijau, kok Indeks Shanghai 'Kebakaran'?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
09 April 2021 08:48
Investors look at computer screens showing stock information at a brokerage house in Shanghai, China September 7, 2018. REUTERS/Aly Song Foto: Bursa China (Reuters/Aly Song)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham di kawasan Asia mayoritas dibuka menguat pada perdagangan Rabu (7/4/2021), jelang rilis data inflasi China periode Maret 2021, di mana pelaku pasar akan mencermati inflasi Negeri Panda tersebut.

Tercatat indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,49%, Hang Seng Hong Kong dibuka tumbuh 0,5%, Straits Times Index (STI) Singapura naik tipis 0,07%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,12%.

Sementara untuk indeks Shanghai Composite China dibuka melemah 0,2% pada pagi hari ini.


Pelaku pasar di Asia hari ini akan mencermati rilis data inflasi China periode Maret 2021 yang akan dirilis pukul 09:30 waktu setempat atau pukul 08:30 WIB.

Bursa saham Asia cenderung mengikuti pasar saham Amerika Serikat (AS) yang ditutup cerah pada perdagangan Kamis (8/4/2021) waktu setempat, Jumat pagi waktu Indonesia.

Beralih ke Negeri Paman Sam, tiga indeks saham utama di Bursa New York (Wall Street) kompak finish di zona hijau.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) berakhir menguat 0,17% ke level 33.503,57, S&P 500 tumbuh 0,42% ke 4.097,14, dan Nasdaq Composite yang kaya akan teknologi ditutup melesat 1,03% ke 13.829,31.

Saham-saham teknologi AS pun kembali diincar oleh investor dan memimpin penguatan di indeks Nasdaq, di mana saham Amazon, Netflix, Microsoft, dan saham induk dari Google, Alphabet berakhir melesat lebih dari 1%.

Sentimen di AS saat ini cenderung beragam, di mana sentimen negatif datang dari data ketenagakerjaan AS yang kembali mengecewakan.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pengajuan klaim tunjangan pengangguran baru pada pekan lalu mencapai 744.000 unit. Ekonom dalam polling Dow Jones sebelumnya memperkirakan angkanya hanya sebesar 694.000.

"Lompatan klaim pengangguran mengecewakan tetapi tidak mengubah pandangan kami bahwa dalam beberapa bulan ke depan kita akan melihat hasil yang bagus karena ekonomi dibuka kian normal," tutur Jeff Buchbinder, perencana investasi saham LPL Financial, sebagaimana dikutip CNBC International.

Pernyataan Jeff bukan tanpa alasan. Pasalnya setelah membaca risalah rapat The Fed, bank sentral AS tersebut mengatakan bahwa program pembelian aset keuangan akan tetap dilanjutkan dengan laju yang sama.

Jika bank sentral tetap mengikuti rencana awal, maka kurva imbal hasil (yield) antara surat utang pemerintah tenor panjang dan pendek akan kian berjauhan. Artinya, pasar kian yakin outlook ekonomi membaik dan angka pengangguran anjlok.

Sang ketua The Fed Jerome Powel menuturkan bahwa pemulihan ekonomi masih belum terjadi secara menyeluruh dan tak merata. Ketidakmerataan ini merupakan masalah yang serius, begitulah kira-kira pernyataan Powell di acara virtual IMF kemarin.

Lebih lanjut Powell mengatakan bahwa kenaikan inflasi tidak akan membuat permasalahan yang serius dan kemungkinan terjadi dalam waktu singkat saja atau temporer. Ke depan The Fed akan terus berupaya untuk menjaga stabilitas harga dengan laju inflasi sasaran 2% dan menciptakan lapangan pekerjaan secara maksimal.

Adapun sentiment positif dari Negeri Paman Sam adalah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang kian menurun pada perdagangan kemarin.

Yield surat utang negara AS tenor 10 tahun semakin turun. Kini imbal hasil nominalnya berada di 1,63%. Jika dikurangi dengan inflasi 1,6% maka imbal hasil riilnya masih sangat rendah.

Jika yield Treasury makin menurun, maka ada peluang besar bahwa para pemilik modal tersebut akan menanmkan dananya ke pasar keuangan Asia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading