Jadi Orang Terkaya RI, Berapa Nilai Saham Duo Hartono di BCA?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
07 April 2021 14:45
Robert Budi Hartono. (Dok:Forbes)

Jakarta, CNBC Indonesia - Media bisnis global Forbes yang biasa memetakan para crazy rich baru saja merilis jajaran orang terkaya di dunia, dengan nilai yang fantastis dan lini bisnis yang tersebar di seluruh dunia. Secara keseluruhan, para miliarder tersebut bernilai US$ $ 13,1 triliun, naik dari US$$ 8 triliun pada tahun 2020.

Dari 200 orang terkaya yang dirilis, ada dua nama pengusaha Indonesia yang masuk dalam jajaran 100 teratas orang terkaya, yakni duo bersaudara Bos Djarum, Robert Budi dan Michael Bambang Hartono.

Dikutip dari Forbes, Budi Hartono berada di urutan 86 di dunia, dengan total kekayaan US$ 20,5 miliar atau setara dengan Rp 287 triliun (kurs Rp 14.000/US$) dan Michael Hartono dengan total kekayaan US$ 19,7 miliar atau Rp 276 triliun. Keduanya juga merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia dengan bisnis besarnya yakni rokok, perbankan, dan elektronik.


Forbes mencatat, keduanya juga menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia pada 2020 dan kembali memegang peringkat itu tahun ini.

Duo Hartono bersaudara adalah pemilik Grup Djarum yang menguasai 54,94% saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) lewat PT Dwimuria Investama Andalan.

Pertanyaannya, berapa kira-kira keuntungan yang bisa dikantongi oleh duo Hartono di saham BBCA pada akhir tahun lalu dan penutupan sesi I hari ini, Rabu (7/3/2021)?

Duo Bos Djarum masuk ke saham BCA melalui perusahaan miliknya, Dwimuria Investama.

Mengacu pada laporan keuangan BBCA pada tahun lalu, Dwimuria Investama adalah pemegang saham pengendali alias entitas induk langsung bank. Adapun pemegang aham engendali terakhir BBCA adalah Budi dan Bambang Hartono.

Menurut pengamatan Tim Riset CNBC Indonesia, setidaknya sejak 2017 sampai akhir Maret 2021, kepemilikan saham Dwimuria di BCA tidak berubah.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), lewat Dwimuria, duo Hartono menguasai 13.545.990.000 saham atau 54,94% dari total saham BBCA. Adapun sisanya, dikuasai masyarakat sebesar 45,06% atau 11.109.020.000 saham.

Nah, sekarang mari kita hitung potential gain kedua bos tersebut.

Sebagai catatan, tentu ini hanya itung-itungan kasar untuk mengilustrasikan besaran keuntungan yang mungkin bisa diraup Hartono bersaudara di saham BBCA.

Pertama, kita akan menghitung keuntungan sang bos pada akhir tahun lalu, tepatnya pada 30 Desember 2020. Pada tanggal tersebut, saham BBCA ditutup di harga Rp 33.850/saham.

Kemudian, harga saham tersebut, Rp 33.850, dikalikan dengan jumlah saham yang dimiliki bos Djarum, 13.545.990.000 saham. Hasilnya, duo Hartono bisa memiliki valuasi Rp 458,53 triliun.

Kedua, dengan cara yang sama, kita kalikan harga saham pada penutupan sesi I hari ini, Rp 30.750, dengan total jumlah saham milik Hartono bersaudara, 13.545.990.000 saham. Dari perhitungan ini didapatkan hasil Rp 416,54 triliun.

Bila kita kurangi posisi pada harga saham hari ini di sesi I, dengan keuntungan pada akhir tahun lalu, keuntungan The Hartono brothers menyusut sebesar Rp 41,99 triliun

Bisa dilihat, seiring dengan tergerusnya harga saham BBCA sejak akhir tahun lalu sampai hari ini, potensi cuan duo Hartono pun ikut menyusut secara year to date meskipun belum dihitung besaran cuan saat keduanya mengambilalih BCA pertama kali.

Meskipun, tentu saja, potensi penurunan cuan yang besar tersebut tidak mengubah fakta bahwa 'keuntungan' sang bos masih tergolong sangat gigantik.

Asal tahu saja, pada akhir 2016, Djarum melakukan perubahan kepemilikan saham dari perusahaan cangkang asal Mauritius ke perusahaan domestik melalui transaksi tutup sendiri alias crossing saham sebesar 11,62 miliar saham atau 47,15%.

Sejak tahun itu, Djarum tidak lagi menggunakan Farindo Investments Ltd, perusahaan cangkang  atau special purpose vehicle (SPV) yang terdaftar di Mauritius, sebuah wilayah tax haven.

Sebagai gantinya, Djarum mengendalikan BBCA melalui Dwimuria. Bersamaan dengan itu, tidak ada perubahan pengendalian saham BCA alias dengan kata lain, pemegang saham pengendali terakhir tetap duo Hartono.

Dikutip dari website resmi BCA, pada 2002, Farindo Investment mengambilalih 51% total saham BCA melalui proses tender strategic private placement.

Grup Keluarga Hartono berawal dari sang Ayah dari Hartono Bersaudara, yakni Oei Wie Gwan membentuk perusahaan rokok dengan brand Djarum pada tahun 1950.

Bertahun-tahun, perusahaan berhasil tumbuh dan menjadi perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Setelah sang Ayah meninggal di tahun 1963, anaknya yakni Michael Hartono dan Budi Hartono melanjutkannya.

Namun, di saat kepemimpinan dua bersaudara Hartono, mereka melakukan diversifikasi usaha, sehingga usahanya tidak hanya 'menjual' rokok. Diversifikasi usaha-nya adalah membentuk perusahaan perbankan bernama Bank Central Asia (BCA). Meski demikian, Djarum pun masih tetap menjadi salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading