Usai Libur Panjang: IHSG, Rupiah & Obligasi Galau, Ada Apa?

Market - Putra, CNBC Indonesia
05 April 2021 11:07
Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia-Pasar keuangan dalam negeri dibuka cukup galau pada perdagangan Senin (5/4/21) pasca liburan Hari Raya Paskah pekan lalu.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka liar pada perdagangan pagi ini. Dibuka hijau 0,31% ke level 6.141,60. Selang 8 menit perdagangan sesi pertama IHSG malah balik terdepresiasi 0,18% ke level 6.001,71. Saat Ini pada pukul 9:45 WIB IHSG terpantau naik tipis 0,18% ke level 6.022,55

Nilai transaksi hari ini sebesar sebesar Rp 2,4 triliun dan terpantau investor asing menjual bersih Rp 287 miliar di pasar reguler.


Selanjutnya, Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat pada pembukaan perdagangan pasar spot hari ini, setelah melemah 0,76% sepanjang pekan lalu.

Pada Senin (5/4/2021), US$ 1 dibanderol Rp 14.515/US$ di pasar spot. Rupiah menguat 0,03% dibandingkan dengan penutupan perdagangan terakhir pekan lalu.

Sementara itu pasar obligasi Ibu Pertiwi cenderung bervariatif, akan tetapi obligasi bertenor 10 tahun yang biasa menjadi acuan terapresiasi 0,36% yang menyebabkan imbal hasilnya turun tipis menjadi 6,709%.

Berikut berberapa sentimen yang memang cenderung mixed di tengah IHSG yang terkoreksi. Pertama. yield obligasi pemerintah AS dan green back masih harus terus dipantau. Kombinasi keduanya bisa membuat pasar saham mengalami koreksi dan mata uang negara berkembang termasuk rupiah terdepresiasi.

Kenaikan lanjutan yield obligasi dan dolar AS berpeluang besar untuk memicu terjadinyaoutflowdari pasar modal RI. Ketika outflow terjadi secara besar-besaran maka rupiah akan menjadi tumbal.

Sentimen kedua yang juga perlu menjadi perhatian pelaku pasar adalah perkembangan proposal infrastruktur senilai US$ 2 triliun. Menurut ekonom jika proposal ini disetujui Kongres maka bisa meningkatkan output perekonomian AS sebesar 0,5 sampai dengan 1 poin persentase.

Namun rencana Biden tak bisa dibilang mulus, lawan Biden tak hanya para produsen minyak di Paman Sam tetapi juga kongres yang suaranya terpecah. Beberapa Demokrat dan aktivis lingkungan khawatir momentum ini tak bisa dimanfaatkan untuk membawa perubahan.

Beberapa anggota Partai Republik yang menentang paket bantuan pandemi Biden juga mengutuk tujuan presiden untuk memasukkan kebijakan iklim ke dalam undang-undang infrastruktur.

Di sisi lain rencana Biden untuk menaikkan pajak juga menuai pro dan kontra. Biden juga berencana untuk menaikkan tarif pajak perusahaan AS menjadi 28% dari pajak sebesar 21% yang ditetapkan di masa Presiden Trump tahun 2017.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading