Mengintip Kinerja Emiten Milik Prajogo Pangestu di 2020

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
29 March 2021 14:50
Polyethylene Plant/Chandra Asri

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) membukukan penurunan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 17,80% menjadi US$ 36,27 juta atau setara dengan Rp 508 miliar sepanjang tahun 2020 saat pandemi Covid-19.

Pada periode yang sama tahun 2019, perseroan mencatatkan perolehan laba bersih sebesar US$ 44,13 juta atau setara Rp 618 miliar.

Mengacu laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan, Senin (29/3/2021), pendapatan emiten bersandi BRPT ini mengalami penurunan 2,85% menjadi US$ 2,33 miliar atau sebesar Rp 33 triliun dari tahun sebelumnya US$ 2,4 miliar atau setara Rp 34 triliun.


Bersamaan dengan penurunan pendapatan, beban pokok pendapatan dan beban langsung juga turun menjadi US$ 1,75 miliar dari sebelumnya US$ 1,82 miliar.

Dengan demikian, laba kotor BRPT turun menjadi US$ 583,39 juta dari sebelumnya US$ 579,45 juta.

Jumlah aset perseroan sampai dengan periode yang berakhir 31 Desember 2020 tercatat sebesar US$ 7,68 miliar dari tahun sebelumnya US$ 7,18 miliar. Nilai tersebut, terdiri dari total liabilitas sebesar US$ 4,73 miliar dan ekuitas sebesar US$ 2,95 miliar.

Belum lama ini, perusahaan pemeringkat global, Moody's Investor Service, memutuskan untuk menarik peringkat emiten induk usaha PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) ini, dari sebelumnya rating B1 corporate family dengan outlook stabil.

"Moody's telah memutuskan untuk menarik peringkat tersebut karena alasan bisnis Barito Pacific," tulis Moody's dalam publikasinya, dikutip CNBC Indonesia, Selasa (16/3/2021).

Pada 3 Mei 2019 lalu, Moody's menyematkan peringkat B1 untuk Barito Pacific dengan outlook stabil. Tak hanya itu, Moody's juga menyematkan peringkat B1 untuk obligasi global milik Barito.

Obligasi tersebut akan dijamin oleh saham yang dimiliki di PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang memiliki peringkat utang Ba3 dengan outlook stabil.

Kala itu, peringkat B1 coorporate family rating (CFR) milik Barito didukung oleh dua investasi saham perseroan di Chandra Asri sebesar 46,26% dan Star Energy Group Holdings Pe Ltd. sebesar 66,7%.

"Perkiraan aliran dividen dari investasi itu mampu untuk menutupi pembayaran bunga dan dana operasional di Barito," ungkap Vice President and Senior Credit Officer Moody's Brian Grieser, dalam keterangannya.

Dalam penjelasan Moody's, peringkat perusahaan B1 juga mencerminkan struktur organisasi yang kompleks sebagai perusahaan induk untuk semua investasinya, tanpa arus kas operasional selain dividen dari dua anak perusahaan utamanya, Chandra Asri Petrochemical dan Star Energy.

Informasi saja, emiten yang didirikan Prajogo ini didirkan pada tahun 1979 awalnya adalah sebagai perusahaan kayu terintegrasi di Kalimantan Selatan dan telah berkembang menjadi sebuah perusahaan induk investasi dengan dua aset utamanya, yakni produsen petrokimia terbesar di Indonesia, Chandra Asri dengan kepemilikan 46,63% saham dan 66,67% saham di pembangkit geothermal Star Energy.

Saham BRPT di Senin ini (29/3), pukul 14.10 WIB tercatat naik 5,82% di posisi Rp 1.005/saham, dengan kapitalisasi pasar Rp 94 triliun. Sebulan terakhir saham perusahaan terkoreksi 9% dan year to date minus 9,09%.

Sementara dari laporan keuangan konsolidasi untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2020. Perseroan membukukan pendapatan bersih konsolidasi sebesar US$2.334 juta, EBITDA sebesar US$598 juta dan laba bersih setelah pajak sebesar US$141 juta. 


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading