Belum Ada Tanda Pulih, OJK: Kredit Februari Terkontraksi 2%

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
25 March 2021 13:55
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam Acara Temu Stakeholder Untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional. (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan pertumbuhan kredit hingga Februari 2021 masih berada pada posisi -2,15% secara tahunan (year on year/YoY) dengan outstanding kredit mencapai Rp 5.419,1 triliun.

Bahkan angka ini tidak lebih baik jika dibanding dengan bulan sebelumnya yang terkontraksi 1,92% YoY dengan outstanding Rp 5.391,7 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan turunnya nilai kredit ini disebabkan karena turunnya saldo kredit dari 200 debitur besar di Indonesia terutama karena rendahnya permintaan kredit modal kerja.


"Kredit growth rendah, minus bahkan di Januari ini masih, Februari masih minus sekitar 2%. Kenapa karena debtur besar, ada 200 debitur besar balance kreditnya turun karena modal kerjanya tidak memerlukan sebesar sebelum Covid. Tapi ini ga masalah, nanti kalau demand naik pasti butuh modal kerja banyak," kata Wimboh dalam talkshow Temu Stakeholder Untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional, Kamis (25/3/2021).

Sementara itu, dana pihak ketiga di akhir bulan lalu juga masih mengalami pertumbuhan double digit di angka 10,11% YoY meski angka ini sedikit turun menjadi sebesar 10,57%.

Rendahnya permintaan kredit dan membuat bank kebajiran likuiditas ini terus membuat loan to deposit ratio (LDR) perbankan secara nasional masih terus mengalami penurunan hingga ke level 81,54% YoY, turun dari posisi Januari 2021 di angka 82,15%.

Sementara itu untuk posisi kredit bermasalah (non performing loan/NPL) hingga Februari berada di angka 3,21%, naik dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar 3,17%.

Wimboh menyebutkan bahwa pertumbuhan kredit saat ini masih didorong oleh kredit bank Himbara dan BPD. Adapun kredit Himbara tumbuh di kisaran 1% sedangkan kredit BPD tumbuh lebih kencang lagi di angka 5%.

Sedangkan yang menjadi perhatian adalah kredit di bank-bank swasta nasional yang masih terkoreksi 5% dan bank asing bahkan mengalami kontraksi hingga 25%.

"Jadi kami menaruh perhatian ini bank swasta ini kenapa. Dan ini akan kami lihat secara lebih detil per debitur kenada dan tugas OJK melihat dan supaya ada jawabnya kenapa demikian," tandasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading