Bos INDY Bocorkan Rencana Bisnis PLTS, Sahamnya Meroket

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
25 March 2021 10:17
PT Indika Energy TBK meraih penghargaan kategori The Best Public Company Energy Sector di Malam penganugerahan CNBC Indonesia Awards 2019 di Java Ballroom The Westin Jakarta, Rabu 4 Desember 2019. (CNBC Indonesia/Trisusilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten batu bara PT Indika Energy Tbk (INDY) menguat di zona hijau pada awal perdagangan hari ini, Kamis (25/3/2021). Penguatan ini seiring adanya kabar terbaru dari Direktur Utama (Dirut) Arsjad Rasjid INDY mengenai sejumlah rencana bisnis perusahaan pada tahun ini.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 09.41 WIB, saham emiten yang listing di bursa pada 2008 ini menguat 1,57% Ke posisi Rp 1.620/saham. Adapun nilai transaksi saham ini tercatat mencapai Rp 25 miliar.

Saham INDY tetap melaju di jalur hijau, kendati asing melakukan jual bersih Rp 366,23 juta pada pagi ini.


Dengan penguatan ini, saham INDY sudah terapresiasi 5,19% dalam sepekan. Selain itu, dalam sebulan saham ini sudah melesat 11,34% dan secara year to date (YTD) sudah melejit 87,28%.

Sebelumnya, dalam acara "Mining Forum: Prospek Industri Minerba 2021 CNBC Indonesia", Rabu (24/03), Dirut INDY Arsjad Rasjid mengungkapkan, Indika Energy baru saja mendirikan perusahaan patungan bersama perusahaan tenaga surya asal India, Fourth Partner Energy (4PEL). Perusahaan patungan ini diberi nama PT Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS).

Perusahaan tercatat mengeluarkan investasi sebesar US$ 500 juta atau setara dengan Rp 7,25 triliun (kurs Rp 14.500/US$).

"5 tahun ke depan komitmen US$500 juta untuk tenaga solar. Commitment an sustainability, sekali lagi harus gotong royong," tegasnya.

Dia menambahkan, masih banyak pekerjaan rumah Indonesia untuk meningkatkan energi terbarukan ini. Dia mengatakan Indonesia memang terlambat dibanding negara tetangga.

"Seperti Malaysia dan Thailand. Tapi saya berfikir tidak ada kata terlambat, saya pikir pemerintah pasti mendorong," ujarnya lagi.

Pada kesempatan yang sama, salah satu topik yang dibahas adalah terkait hilirisasi batu bara. Menurutnya, hilirisasi tak melulu soal keuntungan. "Bisnis tidak bisa cuan terus. Kadang ada ruginya. Jangan sampai salah hitung nanti malah tidak cuan," katanya.

Adapun lebih jauh, harus dilihat bagaimana nilai tambah dari batu bara tersebut. Contohnya di masa depan akan lebih banyak penggunaan kompor listrik dan lebih lanjut beralih ke mobil listrik.

Selain itu, Arsjad juga membahas mengenai, potensi green energy di Indonesia yang masih sangat besar. Apalagi, katanya, ditambah dengan target pemerintah secara nasional yang mencapai 23% hingga 2025.

Meski begitu, dia menyebut pengembangan energi terbarukan ini bukan tanpa tantangan. Salah satunya adalah terkait dengan luasan tanah. Kemudian belum lagi soal regulasi.

Dari penjelasannya, satu hal yang pasti bahwa green energy adalah keniscayaan. Sebab, hal ini harus dilakukan dan bersaing di masa depan. "The world menuju ke sana. Bukan insentif, tapi denda jika tak masuk green industry," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading