'Powell Rangers' Sudah Bersuara, Taper Tantrum Jadi?

Market - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
18 March 2021 10:47
Federal Reserve Chair Jerome Powell removes his glasses as he listens to a question during a news conference after the Federal Open Market Committee meeting, Wednesday, Dec. 11, 2019, in Washington. The Federal Reserve is leaving its benchmark interest rate alone and signaling that it expects to keep low rates unchanged through next year. (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran banyak pihak akan terulangnya taper tantrum seperti 2013 akhirnya mereda pasca keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (the Fed). Pasar keuangan pagi ini pun tampak kembali bergairah.

"Setelah mendengar keputusan the Fed artinya tantrum dalam jangka pendek terjadi kecil," ungkap Ekonom Bank Permata Josua Pardede, kepada CNBC Indonesia, Kamis (18/3/2021).

Dalam pidatonya, ketua The Fed, Jerome Powell, mengakui bahwa inflasi tahun ini bisa menyentuh angka 2,2%, di atas rerata patokan yang biasa mereka pakai untuk mencegah mesin ekonomi terlalu panas (overheated).



Namun, secara bersamaan bank sentral paling powerful di dunia ini menegaskan akan tetap mempertahankan kebijakan moneter longgarnya tersebut demi pasar tenaga kerja dan ekonomi yang membaik. Artinya, The Fed belum akan mengurangi nilai pembelian aset (quantitative easing/QE) atau yang dikenal dengan istilah tapering dalam waktu dekat.

Tapering menjadi isu yang selama ini ditakutkan pelaku pasar, sebab pengalaman pada 2013 lalu menyebabkan gejolak di pasar finansial global yang disebut taper tantrum.


Josua memperkirakan tapering baru akan terjadi 3 tahun mendatang, ketika ekonomi sudah mulai pulih sepenuhnya. Seperti yang terjadi ketika 2013, tapering terjadi pasca krisis 2009.

"Tidak terelakkan mulai normal di 2024, dan proses dari 2020 ke 2024 sama, timing-nya kalau mau samakan waktu ke 2013 lalu ya 2024," jelasnya.

Rentang waktu tersebut, menurut Josua harus dimanfaatkan oleh pemerintah, Bank Indonesia (BI) dan pemangku kepentingan lainnya. Seperti efektivitas penggunaan utang, percepatan pemulihan ekonomi hingga peningkatan ketahanan eksternal.


Utang menjadi ancaman banyak negara dalam jangka menengah seperti laporan World Economic Forum Januari lalu. Ini seiring dengan peningkatan utang untuk menyelamatkan ekonomi ketika terjadinya pandemi covid-19. Indonesia memang masih mengelola utang dengan baik dengan rasio di bawah 40% terhadap PDB.

"Cara mitigasinya menggunakan utang dengan produktif, karena utang tutupi belanja tinggi dan pendapatan rendah, spending ini harus bisa menggerakkan usaha umkm dan sebagainya," kata Josua.

"Harapannya ini bisa mengenerate sisi produksi sehingga pendapatan meningkat lagi mendekati target dan beban fiskal defisit enggak semakin lebar dan harapan 2023 berbalik lagi ke 3%. Kalau itu terealisasi maka prediksi mengkhawatirkan tidak akan terjadi."


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading