Sepi Proyek, Laba Wika Gedung Ambles 66% di 2020

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
15 March 2021 10:52
Ilustrasi IHSG (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan konstruksi dan investasi gedung, PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) atau Wika Gedung mengalami penurunan laba bersih drastis sepanjang 2020 lalu di tengah pandemi Covid-19.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, tercatat laba bersih mencapai Rp 153,28 miliar. Terjadi penurunan 66,06% secara tahunan (year on year/YoY) dari sebesar Ro 451,65 miliar di akhir 2019 lalu.

Nilai laba bersih per saham anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) ini juga turun drastis menjadi Rp 16,01 dari sebelumnya Rp 47, 19.


Penurunan laba bersih ini terjadi karena perusahaan juga mencatatkan penurunan pendapatan hingga 38,47% YoY. Tercatat pendapatan perusahaan mencapai Rp 2,81 triliun di akhir 2020 lalu, merosot dari Rp 4,56 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Turunnya pendapatan perusahaan juga berdampak pada turunnya beban pokok pendapatan menjadi senilai Rp 2,59 triliun dari Rp 4,10 triliun. Beban usaha juga turun menjadi Rp 63,29 miliar dari sebelumnya Rp 70,98 miliar.

Sepanjang 2020, perusahaan membukukan pendapatan lainnya menjadi senilai Rp 88,34 miliar, naik dari Rp 62,96 miliar. Sedangkan tidak ada keuntungan diri investasi properti yang dibukukan perusahaan tahun lalu, setelah sebelumnya berhasil membungkus Rp 66,48 miliar.

Terjadi kenaikan beban lainnya menjadi Rp 2,10 miliar dari sebelumnya senilai Rp 1,79 miliar. Beban keuangan juga naik menjadi Rp 32,49 miliar dari Rp 20,39 miliar.

Terjadi juga penurunan pada laba dari ventura bersama menjadi hanya sebesar Rp 38,24 miliar dari sebelumnya sebesar Ro 96,70 miliar.

Namun ada perbaikan dari sisi laba selisih kurs sebesar Rp 357,17 juta setelah sebelumnya perusahaan terpaksa merugi Rp 680, 18 juta.

Per 31 Desember 2020 aset Wika Gedung tercatat turun menjadi Rp 6,08 triliun dibanding dengan Rp 6,19 triliun di akhir periode 2019. Aset lancar mencapai Rp 4,70 triliun dan aset tak lancar sebesar Rp 1,37 triliun.

Dari pos liabilitas, tercatat kewajiban keseluruhan mencapai Rp 3,88 triliun, tak jauh berbeda dari posisi akhir 2019 yang senilai Rp 3,73 triliun. Liabilitas jangka pendek mencapai Rp 3,16 triliun dan jangka panjang senilai Rp 722,93 miliar.

Nilai ekuitas ditutup di angka Rp 2,19 triliun di akhir tahun lalu, berkurang dari Rp 2,45 triliun di akhir 2019.

Berdasarkan data lapkeu 2020, manajemen WEGE menyatakan, sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan konsolidasi, telah terjadi pandemi virus Covid-19 yang mengakibatkan kenaikan nilai tukar mata uang asing dan menurunnya kegiatan di sektor ekonomi.

"Secara langsung dan tidak langsung, dampak ini mempengaruhi kegiatan operasional Grup WEGE pada beberapa bulan mendatang," tulis manajemen.

Dampak pandemi Covid-19 dari awal tahun 2020 sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan konsolidasian cukup material bagi Grup, dikarenakan banyak pelanggan yang menutup usaha mereka sesuai dengan anjuran pemerintah masing-masing negara untuk menghentikan penyebaran Covid-19, sehingga secara langsung mempengaruhi performa Grup.

Adapun belum terealisasinya dana capital expenditure (capex) dan/atau dana IPO (dana penawaran umum saham perdana) disebabkan oleh penundaan rencana investasi hingga batas waktu tanggap darurat bencana berakhir dan daya beli masyarakat menurun sehingga berpengaruh terhadap pasar properti .

"Upaya yang dilakukan antara lain tetap melakukan operasional dengan menerapkan protokol kesehatan dan menjaga hubungan dengan klien dan pemasok."


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading