Ramalan 'Ahli Nujum' Itu Benar, Emas Drop ke Bawah US$ 1.700

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
09 March 2021 09:20
This photo taken Wednesday, March 4, 2015 shows a 10 dinar gold coin from Morocco's Almohad Dynasty on exhibit at the Mohammed VI Museum of Modern and Contemporary art in Rabat, Morocco. The

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas terus tertekan belakangan ini. Bahkan harga logam mulia tersebut kini sudah berada di bawah level psikologis US$ 1.700/troy ons. Hanya dalam kurun waktu 7 bulan sejak mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, emas langsung ambles. 

Harga emas hanya menguat tipis pada perdagangan pagi hari ini, Selasa (9/3/2021). Di arena pasar spot emas dihargai US$ 1.683,45/troy ons atau menguat 0,13% dibanding posisi penutupan kemarin. 


Pemicu utama harga emas jatuh adalah kenaikan yield surat utang pemerintah AS dan penguatan greenback. Imbal hasil nominal surat utang Paman Sam tenor 10 tahun sudah semakin mendekati 1,6%. 

Indeks dolar yang mengukur keperkasaan mata uang Paman Sam terhadap enam mata uang lain juga mengalami apresiasi. Indeks dolar saat ini berada di posisi tertingginya sejak 24 November 2020. 

Baik dolar AS dan US Treasury keduanya adalah aset yang memiliki korelasi negatif dengan emas. Artinya harga emas cenderung berbanding terbalik dengan pergerakan kedua aset keuangan tersebut. 

Emas merupakan salah satu aset yang tak memberikan imbal hasil. Oleh karena itu minat investor untuk memegang aset ini tentu sangat tergantung pada opportunity costnya dibanding dengan aset lainnya. 

Kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat opportunity cost memegang emas menjadi lebih tinggi sehingga emas kurang begitu menarik di mata para investor. Lagipula pasar juga sudah mulai mengantisipasi adanya pemulihan ekonomi di tahun 2021.

Hal tersebut tercermin dari pasar saham. Saat pandemi Covid-19 dan lockdown marak terjadi rotasi yang sangat kentara dalam berinvestasi di saham. Sektor teknologi menjadi idola dan buruan semua orang karena dinilai lebih resilien. 

Namun saat ada kemungkinan ekonomi pulih, investor kembali melakukan rebalancing dan mengalihkan uangnya ke sektor-sektor tradisional. Itulah mengapa indeks Nasdaq Composite cenderung terkoreksi tajam belakangan ini. 

Ketika ekonomi berada dalam kondisi yang baik maka risk appetite investor juga pulih. Emas bukan lagi menjadi aset yang dilirik walau secara fundamental sebenarnya emas masih kuat didukung dengan kebijakan makro yang akomodatif.

Prospek ekonomi yang lebih cerah juga didukung dengan diloloskannya RUU bantuan fiskal senilai US$ 1,9 triliun oleh Senat AS. Dengan stimulus tersebut ekonomi AS yang sudah bergeliat diharapkan bisa bangkit. 

Analis Wall Street dan investor ritel di mainstreet kompak meramal harga emas akan cenderung turun minggu ini.

Survei yang dilakukan Kitco menunjukkan bahwa 57% analis Wall Street memperkirakan harga emas bakal lebih rendah minggu ini. Sementara bagi responden main street sebanyak 44% menganggap harga emas bakal turun.

Apabila harga emas kembali turun ke bawah US$ 1.700 dan gagal mempertahankan posisinya di US$ 1.675 maka peluang emas untuk anjlok semakin dalam kian terbuka lebar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading