Kena Efek Wall Street, Bursa Saham Asia Dibuka Beragam

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
03 March 2021 08:51
People walk past an electronic stock board showing Japan's Nikkei 225 index at a securities firm in Tokyo Wednesday, July 10, 2019. Asian shares were mostly higher Wednesday in cautious trading ahead of closely watched congressional testimony by the U.S. Federal Reserve chairman. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia dibuka beragam pada Rabu (3/3/2021), di tengah pelemahan bursa saham Amerika Serikat (AS) akibat aksi ambil untung (profit taking) investor setelah melesat tinggi pada perdagangan Senin (1/2/2021) waktu AS.

Tercatat indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,25%, Hang Seng tumbuh 0,53%, dan Straits Times Index (STI) Singapura terapresiasi 0,41%.

Sedangkan indeks Shanghai Composite China dibuka melemah 0,24% dan KOSPI Korea Selatan turun 0,18%.


Di Asia, data ekonomi yang telah dirilis pagi hari ini adalah data indeks manajer pembelian (Purchasing Manager' Index/PMI) Jasa Jepang versi Jibun Bank (Markit) pada periode Februari 2021.

Tercatat PMI Jasa Negeri Sakura tersebut naik 0,2 poin menjadi 46,3 dari sebelumnya di angka 46,1. PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula, jika di atas 50 maka dunia usaha masih melakukan ekspansi.

Beralih ke Amerika Serikat (AS), bursa saham Wall street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (2/3/2021) waktu setempat, akibat diterpa aksi ambil untung (profit taking) oleh investor.

Dow Jones Industrial Average (DJIA) melemah 0,41% ke level 31.391,52, S&P 500 merosot 0,81% ke 3.870,29, dan Nasdaq Composite ambles 1,69% ke 13.358,79.

Sektor siklikal seperti energi dan finansial terus berkinerja melampaui ekspektasi pasar di tengah optimisme mengenai vaksin dan pemulihan ekonomi. Di sisi lain, tersendatnya laju kenaikan yield obligasi pemerintah AS membagikan sentimen positif untuk saham teknologi.

"Kecemasan seputar yield cenderung bertanggung-jawab terhadap koreksi S&P 500 sebesar 3% dari rekor tertingginya pada Februari,"tutur Mark Haefele, Kepala Investasi UBS Global Wealth Management, dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Gangguan tersebut, lanjut dia, bersifat sementara dan investor akan kembali memutar uangnya di bursa saham. Kenaikan imbal hasil bagaimanapun juga didorong optimisme bahwa ekonomi akan tumbuh, dan bukan otomatis memicu inflasi yang liar.

Investor cenderung menunggu komentar calon ketua Otoritas Jasa Keuangan (Securities and Exchange Commission/SEC) AS Gary Gensler dan Gubernur The Fed Lael Brainard yang akan berbicara mengenai kondisi keuangan dan perekonomian AS, termasuk juga ekspektasi inflasi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading