Bitcoin Ambrol Setelah Disentil Menkeu AS, Emas Anteng Saja!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
24 February 2021 08:33
This photo taken Wednesday, March 4, 2015 shows a 10 dinar gold coin from Morocco's Almohad Dynasty on exhibit at the Mohammed VI Museum of Modern and Contemporary art in Rabat, Morocco. The

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas cenderung stabil setelah kembali tembus US$ 1.800/troy ons sejak awal pekan ini. Belum ada tanda-tanda emas akan melesat lagi. Pada perdagangan pagi ini, Rabu (24/2/2021) harga emas masih jalan di tempat.

Harga emas tak bergeming dibanding posisi penutupan perdagangan kemarin. Di arena pasar spot harga bullion cenderung flat dengan kenaikan sangat tipis 0,04%. 1 troy ons emas kini dibanderol di US$ 1.805,5.


Pergerakan harga emas sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, sentimen dan fluktuasi harga aset lainnya. Sejak awal tahun 2021, harga emas cenderung tertekan hebat. Hal ini disebabkan oleh tren kenaikan imbal hasil nominal obligasi pemerintah AS. 

Yield obligasi pemerintah AS terus menguat signifikan dalam waktu yang singkat. Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan yield naik hampir 50%. Pasalnya per akhir Desember yield surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun yang menjadi acuan masih di bawah 1%. Kini imbal hasilnya sudah mencapai 1,35%. 

Geliat ekonomi AS yang semakin dan jumlah uang beredar yang mengalami kenaikan pesat meningkatkan optimisme akan prospek pemulihan ekonomi dan turut mendorong ekspektasi inflasi yang lebih tinggi. 

Baik sektor manufaktur maupun jasa di AS sudah berada di teritori ekspansif. Hal ini tercermin dari angka indeks manajer pembelian (purchasing manager's index/PMI) yang sudah berada di atas angka 50%. 

Pasokan uang beredar (M2) di AS juga meningkat pesat. Di bulan ini saja, nilai M2 di AS tercatat mencapai US$ 19,41 triliun di bulan ini atau naik 25,71% (yoy) dari periode yang sama tahun 2020. Per Februari 2020 nilai M2 di AS hanya tercatat sebesar US$ 15,45 triliun.

Likuiditas yang berlimpah dan geliat ekonomi yang semakin terasa membuat banyak pihak mulai mengantisipasi kenaikan inflasi yang tinggi. Wajar saja jika investor juga berharap mendapat kompensasi kenaikan imbal hasil dari obligasi. 

Namun di saat yang sama kenaikan imbal hasil yang mencerminkan suku bunga jangka panjang juga menimbulkan konsekuensi untuk aset lainnya. Kenaikan suku bunga untuk aset ekuitas berarti biaya pinjaman (borrowing cost) yang lebih mahal.

Valuasi saham yang sudah begitu tinggi di atas rata-rata jangka panjangnya di AS membuat harga saham mengalami koreksi dan pasar sempat goyang. Saham-saham teknologi yang dulu menjadi primadona kini mulai dilego investor.

Untuk emas sebagai salah satu aset tanpa imbal hasil, kenaikan yield obligasi membuat biaya peluang (opportunity cost) memegang aset ini menjadi lebih tinggi. Emas menjadi kurang menarik di mata investor sehingga menghadapi tekanan jual yang signifikan. Apalagi setelah mencetak rekor tertinggi Agustus tahun lalu.

Hubungan tersebut pada akhirnya membentuk korelasi yang negatif antara imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang dalam hal ini 10 tahun dan harga emas. 

Imbal hasil surat utang pemerintah AS mulai melandai lagi setelah bos bank sentral AS, The Fed, Jerome Powell menyampaikan testimoninya tentang kondisi perekonomian di hadapan Komite Perbankan Senat AS. 

Dalam paparannya tersebut, Powell mengungkapkan bahwa ekonomi saat ini masih jauh dari sasaran target bank sentral untuk mencapai kondisi ketenagakerjaan yang maksimal (maximum employment) dan target inflasi yang mana itu menjadi dual mandate bank sentral paling berpengaruh di dunia tersebut. 

Lebih lanjut, Powell juga mengungkapkan bahwa inflasi di AS masih tergolong jinak. Rata-rata inflasi dalam periode 12 bulan terakhir masih di bawah sasaran target bank sentral 2%. 

Pernyataan Powell tentu memiliki implikasi bagi emas. Penurunan imbal hasil nominal dan riil obligasi memberikan ruang untuk emas menguat. Namun di saat yang sama inflasi yang masih jinak dan risk appetite investor yang tinggi membuat harga emas susah untuk pulih dan kembali tembus rekor meski kondisi masih memungkinkan.

Di saat yang sama harga Bitcoin kembali ambrol. Kali ini nilai kapitalisasi pasarnya turun lebih dari 10%. Koreksi tajam harga Bitcoin menyusul warning dari Menteri Keuangan AS Janet Yellen tentang bahaya inefisiensi jika bertransaksi menggunakan mata uang kripto tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading