Saham Teknologi AS dalam Tekanan, Nasdaq Futures Anjlok

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
23 February 2021 18:46
Trader Gregory Rowe works on the floor of the New York Stock Exchange, Monday, Aug. 5, 2019. Stocks plunged on Wall Street Monday on worries about how much President Donald Trump's escalating trade war with China will damage the economy. (AP Photo/Richard Drew) Foto: Wall Street (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks bursa Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Selasa (23/2/2021), menyusul ambruknya saham-saham teknologi.

Kontrak futures indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi hingga 92 poin, Kontrak serupa indeks S&P 500 sedikit melemah, tetapi kontrak futures Nasdaq (yang berisi saham-saham sektor teknologi) anjlok hingga 200 poin.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq kemarin mencetak koreksi mingguan masing-masing sebesar 0,7% dan 2,5%. Sementara itu, Dow Jones masih bisa mencetak reli, meski tipis, yakni sebesar 0,09% berkat reli saham sektor perjalanan seperti maskapai dan kapal laut.


Indeks Nasdaq terkoreksi besar karena anjloknya saham Apple dan Tesla sementara indeks S&P 500 melemah karena investor khawatir melihat kenaikan imbal hasil (yield) obligasi acuan pemerintah AS yang kemarin mencapai 1,36%.

"Semakin tinggi imbal hasil obligasi pemerintah AS, semakin cepat pula investor memutar portofolionya, dari saham teknologi ke saham di dalam indeks Russel 2000 serta Dow Jones," tutur analis senior OANDA Edward Moya dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Dalam perkembangan terbaru, Facebook mencapai kesepakatan dengan pemerintah Australia dan akan memulihkan laman berita Negeri Kanguru di aplikasi tersebut.

Pasar obligasi masih akan menarik perhatian pemodal terutama karena Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell malam ini (WIB) akan memulai pidatonya di depan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Kongres AS.

Bos bank sentral terkuat di dunia ini tengah mempertahankan sikap kerasnya bahwa kenaikan suku bunga acuan belum akan diambil. Meski demikian, komentar terbaru terkait itu masih akan dinanti karena ada potensi inflasi akan meninggi tatkala stimulus US$ 1,9 triliun dicairkan.

Kekhawatiran seputar inflasi meningkat beberapa pekan ini setelah muncul perdebatan politik mengenai perlu-tidaknya stimulus lanjutan setelah kasus baru Covid-19 terus menurun berkat vaksinasi.

Investor juga akan memantau data keyakinan konsumen dan harga rumah, sementara emiten peritel Home Depot dan Macy's akan melaporkan kinerja keuangannya sebelum pembukaan pasar nanti.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading