Harga Anjlok Parah, Warren Buffett Sampai Jual Saham Emas Lho

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
19 February 2021 10:18
Warren Buffett. (AP Photo/Nati Harnik, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas semakin tertekan tak karuan. Di arena pasar spot, harga emas terkoreksi 0,51% menjadi US$ 1.766,7/troy ons pada perdagangan pagi hari ini, Jumat (19/2/2021). 

Di sepanjang tahun ini harga emas sudah drop hampir 7%. Hal ini tentu berbeda dengan kinerja emas yang kinclong tahun lalu. Emas sekarang menjadi bulan-bulanan pasar. Banyak investor yang mulai beralih dari emas ke aset lain.


Saat krisis keuangan global 2008 terjadi, langkah yang dilakukan bank sentral (terutama The Fed) untuk menyelamatkan perekonomian adalah dengan menurunkan suku bunga dan melakukan pelonggaran kuantitatif (QE). 

Sejumlah besar uang dicetak dan dibelikan aset-aset keuangan seperti obligasi pemerintah. Itulah cara bank sentral menginjeksi likuiditas di sistem keuangan dan mempengaruhi peredaran uang. 

Pasokan uang yang berlimpah dan era suku bunga rendah membuat banyak pihak khawatir bahwa inflasi akan terjadi. Investor pun berlari ke emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terutama dari inflasi. 

Emas tidaklah seperti dolar AS, euro, yen atau poundsterling yang bisa dicetak kapanpun oleh bank sentral. Suplai yang relatif terjaga membuat emas menjadi salah satu aset yang cocok untuk mencari perlindungan kala terjadi devaluasi mata uang.

Penguatan harga emas hingga menyentuh level all time high di 2020 juga sama. Namun setelah mencapai 'pucuk' harga emas terjun bebas begitu saja. Bahkan dalam waktu yang relatif lebih cepat dari periode krisis sebelumnya. 

Investor tampaknya mulai melepas emas dan beralih ke aset-aset lain yang lebih berisiko. Aksi spekulasi dan investor yang semakin agresif membuat emas seolah-olah dicuekin, bahkan ditinggal.

Sampai-sampai Warren Buffett, pemilik Berkshire Hathaway, pun ikut menjual seluruh saham Barrick Gold di kuartal keempat tahun lalu. Ya, Warren Buffett, salah satu orang terkaya sejagad, yang dikenal sangat skeptis terhadap emas akhirnya membeli saham tambang emas saat harga emas melesat tajam. Namun kini saat harganya mulai turun, ia pun melepas saham tambang emas tersebut. 

Apa yang lagi nge-tren sekarang adalah mata uang kripto seperti Bitcoin. Investor ritel, institusi bahkan korporasi seperti Tesla pun ikut melirik aset digital ini. Bitcoin memang kontroversial.

Kenaikannya yang fantastis mengundang perdebatan. Ada yang melihatnya dari sudut pandang prospek yang cerah. Ada pula yang melihatnya sebagai fenomena euforia pemicu bubble.

Pandangan kedua didukung oleh salah satu ekonom kawakan Dr. Nouriel Roubini. Profesor ekonom yang juga dijuluki Dr. Doom tersebut menilai bahwa kenaikan Bitcoin adalah fenomena bubble. Bahkan Bitcoin menurutnya bukan sebuah aset.

Bitcoin bukanlah uang yang merupakan alat tukar, unit akunting dan store of value. Volatilitasnya yang tinggi membuat Bitcoin sangat tidak cocok untuk karakter tersebut dan sifatnya cenderung spekulatif. 

Well, mau bagaimanapun juga salah satu faktor penggerak harga suatu aset adalah sentimen. Terlepas dari rasional atau tidak pasar tetaplah pasar. Seringkali ada euforia yang berlebihan. Namun tak jarang juga diikuti dengan ketakutan yang berlebihan pula. 

Ketika harga suatu aset melesat gila-gilaan, investor yang FOMO (fear of missing out) dan tak mau 'ketinggalan kereta' berupaya terus mengejar. Inilah yang membuat harga suatu aset meningkat tajam meski di atas valuasi rasionalnya. 

Saat ini emas memang ditinggal pergi banyak orang. Bitcoin sedang dipuja-puja dan jadi primadona. Namun peran emas sebagai salah satu aset untuk diversifikasi dan lindung nilai, rasanya belum akan luntur dalam waktu dekat.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading