Emas Memang Kalah Sama Bitcoin, tapi Kalau Drop Lagi, Serok!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
15 February 2021 08:21
Petugas menunjukkan koin emas Dirham di Gerai Butik Emas Antam, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Bank Indonesia (BI) mengajak masyarakat dan berbagai pihak untuk menjaga kedaulatan Rupiah sebagai mata uang NKRI.    (CNBC Indonesia/ Tri Susislo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas gagal mencapai level US$ 1.850/troy ons pekan lalu. Apabila harga terus turun dan gagal bertahan di posisi US$ 1.800/troy ons, maka tekanan jual logam kuning tersebut akan semakin besar. 

Mengawali perdagangan pekan ini, Senin (15/2/2021) harga emas di pasar spot turun 0,16% ke US$ 1.820,6/troy ons. Emas hanya mampu mencapai level US$ 1.842,2/troy ons pekan lalu sebelum berbalik arah. 


Di sepanjang tahun 2021, emas menjadi salah satu aset dengan kinerja yang bisa dibilang buruk. Harga emas drop hampir 4%. Di saat yang sama greenback yang tercermin dari indeks dolar menguat 0,55%. 

Harga aset-aset berisiko seperti saham, minyak dan Bitcoin bahkan naik lebih kencang. Harga cryptocurrency Bitcoin  justru memimpin penguatan dengan gain lebih dari 60% secara year to date

Presiden AS Joe Biden pada Kamis meneken kesepakatan pembelian 200 juta dosis vaksin Covid-19 dari Moderna dan Pfizer, sehingga total dosis vaksin yang dimiliki Negara Adidaya itu mencapai 600 juta.

Program vaksinasi yang terus berjalan meski penuh tantangan membuat optimisme membuncah. Pelaku pasar dan investor menjadi lebih agresif memburu aset-aset berisiko. 

Meskipun secara makroekonomi emas masih diuntungkan dengan era suku bunga rendah dan injeksi likuiditas besar-besaran, cuan yang menggiurkan dari saham dan mata uang digital seperti Bitcoin lebih menggoda pelaku pasar. Emas pun ditinggalkan. 

Emas saat ini masih menanti kabar lanjutan terkait perkembangan stimulus fiskal senilai US$ 1,9 triliun yang diajukan oleh Joe Biden. Apabila stimulus tersebut tidak segera goal dan cair, maka harga emas akan terus tertekan.

Survei yang dilakukan oleh Kitco terhadap analis Wall Street maupun responden di Main Street menunjukkan bahwa konsensus tidak tercapai. Mayoritas analis Wall Street memperkirakan tren bearish akan terjadi di pasar emas minggu ini. 

Dari 14 analis yang disurvei, sebanyak 10 orang atau 71% mengatakan harga emas berpotensi tertekan minggu ini. Sementara itu, dari total 1.257 investor Main Street yang disurvei oleh Kitco sebanyak 644 responden (51%) memperkirakan harga emas bakal bullish pekan ini. 

Pendapat di kalangan analis dan investor cenderung terbelah. Harga emas berpotensi untuk konsolidasi seiring dengan tren wait and see yang terjadi. Namun apabila harga emas terus tertekan dan melorot ke bawah US$ 1.800/troy ons, seperti yang terjadi pada minggu pertama Februari tahun ini, maka tekanan jual yang masif bakal terjadi.

Harga emas bisa jatuh mendekati US$ 1.700/troy ons. Namun saat harga emas jatuh ke level tersebut, seorang analis justru merekomendasikan investor untuk mulai melakukan aksi beli. 

"Setiap penurunan di bawah US$ 1.800 menjadi momentum untuk beli, tetapi Anda tidak ingin memiliki posisi penuh, mulai dari saja dari skala yang kecil," kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures.

Tentu saja rekomendasi analis ini kembali pada investor untuk memutuskan dengan berbagai pertimbangan yang ada.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading