OJK: Gegara Covid, Jumlah Investor Ritel Hampir Tembus 4 Juta

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
01 February 2021 20:40
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan. (tangkapan Layar Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan tingkat ketertarikan masyarakat dengan instrumen pasar modal meningkat sejalan dengan belum pulihnya konsumsi akibat pandemi Covid-19. Hal ini mendorong meningkatnya jumlah investor ritel hingga hampir menyentuh angka empat juga investor tahun lalu.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan peningkatan jumlah investor ini merupakan peralihan pendapatan yang tadinya dalam bentuk konsumsi menjadi dalam bentuk investasi sehingga demand di pasar keuangan meningkat.

"Diseluruh dunia banyak masyarakat tertarik investasi di pasar modal. Karena ruang konsumsi belum pulih seperti semula. Jadi income-nya bisa dari pasar modal ini adalah kesempatan yang baik di pasar modal. Sehingga banyak investor-investor ritel dengan didukung teknologi maju bisa akses pasar modal. Di Indonesia, investor ritel hampir 4 juta di masa pandemi 2020," kata Wimboh dalam dalam konferensi pers secara virtual, Senin (1/2/2021).


Untuk mengakomodasi jumlah investor yang terus tumbuh ini, OJK terus meningkatkan supply dengan menyediakan produk-produk investasi terutama untuk investor ritel.

Baru tahun ini OJK mengeluarkan security crowdfunding khusus untuk pengusaha kecil yang membutuhkan pendanaan dengan nilai yang tidak terlalu besar. Potensi untuk produk ini dinilai mencapai Rp 74 triliun di Indonesia.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi baru-baru ini juga menyebut kenaikan jumlah investor ini juga meningkatkan keaktifan investor lokal. Menurut catatan BEI, jumlah investor ritel yang aktif bertransaksi sebanyak 90 ribu investor per hari.

Tingginya jumlah investor aktif ini meningkatkan frekuensi perdagangan saham menjadi 619 ribu transaksi per hari. Ini menorehkan rekor menjadikan BEI sebagai bursa saham dengan frekuensi tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Menurut Inarno, jumlah investor ini juga membantu memperbaiki posisi indeks tahun lalu yang sempat mengalami penurunan tajam dan berada pada teritori 3.900 pada Maret 2020. Namun bisa kembali recover, meski masih di area negatif dibanding awal 2020, dan ditutup pada 5.900-an di akhir tahun lalu.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Orias, Mirza Adityaswara, sampai Inarno! Ini Calon Bos OJK


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading