IHSG Ambrol, Mayoritas Saham BUMN Masuk ARB Club

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
28 January 2021 14:53
Ilustrasi IHSG (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada perdagangan sesi kedua Kamis (28/1/21) siang ambles cukup dalam, di tengah koreksi parah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi kedua hari ini.

Pada pukul 14:05, tercatat setidaknya 10 saham BUMN terkoreksi cukup dalam hingga mencapai level batas auto rejection bawah (ARB) yang diizinkan, yakni sekitar 7%.

Simak gerak saham BUMN yang terkena level ARB pada perdagangan sesi II hari ini:


Tercatat saham BUMN yang terkena level ARB-nya hari ini dipimpin oleh emiten konstruksi yakni PT PP Tbk (PTPP) yang ambrol 6,99% ke level Rp 1.730/unit.

Di posisi kedua dan ketiga ditempati oleh duo anak usaha PT Bio Farma (Persero) yakni PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF). Saham KAEF ambles 6,94% ke posisi Rp 3.350/unit, sedangkan saham INAF juga ambrol 6,94% ke Rp 3.220/unit.

Sementara itu di posisi ke-10, ada saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang juga masuk kedalam saham BUMN yang terkena ARB hari ini, di mana saham ANTM anjlok 6,67% ke Rp 2.380/unit.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan sesi kedua Kamis (28/1/21) dibuka anjlok parah 2,01% ke level 5.986,72, meninggalkan level psikologis 6.000.

Data perdagangan mencatat, pada awal perdagangan sesi kedua hari ini, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp165 miliar di pasar regular dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 10,99 triliun.

Ambruknya bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street menjadi pemicu koreksi IHSG, terpantau indeks acuan saham Negeri Paman Sam tersebut terkoreksi lebih dari 2% pada penutupan perdagangan dini hari tadi.

Koreksi Wall Street di zona merah dengan koreksi yang cukup parah tentu saja bisa menjadi sentimen negatif tersendiri bagi Bursa Asia.

Depresiasi bursa Paman Sam bisa menyebrang benua dan menjadi penyebar ketakutan di pasar dimana bisa saja menyebabkan indeks acuan kalah sebelum bertanding.

Di AS sendiri, sesuai dengan ekspektasi pasar dimana The Fed ternyata tidak akan meningkatkan suku bunga dan tetap akan melakukan pembelian obligasi dalam jumlah besar untuk menginjeksi likuiditas ke pasar sehingga ketakutan pasar akan adanya taper tantrum tidak berdasar karena posisi yang dilakukan The Fed masih posisi kebijakan moneter longgar.

Komite pasar terbuka The Fed menjaga suku bunga tetap berada di level 0% hingga 0,25% dan menjaga pembelian obligasi berada di posisi US$ 120 miliar per bulan.

Bank Sentral AS tersebut memberi signal bahwa jalur ekonomi AS akan bergantung terhadap kasus corona, salah satunya bagaimana progres dari vaksinasi, di mana The Fed mengatakan krisis kesehatan publik ini mengganggu aktivitas ekonomi,

Gubernur The Fed sendiri mengatakan bahwa Bank Sentral AS ini akan mengambil langkah Wait and See terhadap potensi terjadinya inflasi setelah pandemi corona meskipun menurutnya hal ini masih akan lama.

"Ekonomi masih akan berada jauh di bawah target tingkat pengangguran dan inflasi dan masih akan lama sampai progress yang substansial akan tercapai" ujar Jay Powell.

Powell juga mengatakan saham-saham yang melesat dalam beberapa periode terakhir bukan diakibatkan oleh kebijakan moneter yang dilakukan akan tetapi lebih terhadap kebijakan fiskal dan ekspektasi terhadap vaksin.


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading