SWF Jokowi Segera Dirilis, kok Saham 4 BUMN Karya Ambruk?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
22 January 2021 10:10
Presiden RI Jokowi Resmikan Jalan Tol Pekanbaru-Dumai, Istana Bogor, 25 September 2020 (Tngkapan Layar Youtube)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten konstruksi terkoreksi cukup dalam pada perdagangan sesi pertama Jumat (22/1/21) kendati mendapatkan sentimen positif dana abadi alias Sovereign Wealth Fund (SWF)

Saham konstruksi tersebut sempat terbang pada perdagangan Kamis (21/1/21) kemarin akibat sentimen positif setelah pemerintah merampungkan struktur nama-nama Dewan Pengawas Lembaga Pengelola Investasi alias SWF yang bernama Indonesia Investment Authority (INA) ini.

Simak gerak emiten konstruksi pada perdagangan hari ini, awal sesi I.


Data perdagangan mencatat, seluruh emiten konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya terkoreksi pada pukul 09:15 WIB.

Pelemahan hari ini dipimpin oleh PT PP Tbk (PTPP) yang ambrol 4,31% ke level Rp 2.000/unit.

Pelemahan lain juga dialami oleh PT Adhi Karya Tbk (ADHI) yang ambles 3,58% ke level harga Rp 1.750/unit. Sedangkan emiten BUMN Konstruksi lain yakni PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga terkoreksi 2,86% ke level Rp 2.040/unit.

Sedangkan penguatan paling minor dibukukan oleh PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang terdepresiasi 2,74% di level Rp 1.775/unit.

Sebelumnya pada Kamis kemarin, nama-nama Dewan Pengawas (Dewas) yang akan menjadi pimpinan di lembaga anyar pemerintah di sektor keuangan, Indonesia Investment Authority, akhirnya terungkap.

Mereka adalah Yozua Makes, Darwin Cyril Noerhadi, dan Haryanto Sahari. Ketiga nama ini akan mengawasi para Dewan Direktur SWF.

Yozua Makes adalah seorang pengacara sukses yang sudah eksis selama 30 tahun di bidang Corporate Finance. Ia juga pengusaha yang membangun brand Plataran (Bisnis Perhotelan) pada 2009.

Sementara Darwin Cyril Noerhadi adalah Komisaris Utama (Independen) PT Mandiri Sekuritas, Komisaris (Independen) PT Austindo Nusantara Jaya Tbk, dan Direktur Utama/Senior Managing Director Creador Indonesia. Ia juga Komisaris di RS Hermina.

Sebelumnya, Darwin menjabat sebagai Managing Director/CFO PT Medco Energi Internasional Tbk, Partner PricewaterhouseCoopers Indonesia untuk Corporate Finance, Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta, Direktur Utama PT KDEI, dan Executive Director PT Danareksa.

Ia meraih gelar Doktor di bidang Strategic Management (cum laude) dari Universitas Indonesia, MBA bidang Keuangan dan Ekonomi dari University of Houston, dan Sarjana Teknik dari Institut Teknologi Bandung.

Sementara, Haryanto Sahari adalah Komisaris Independen Bank Permata. Ia lulusan Ekonomi dari Universitas Indonesia pada tahun 1982.

Saat ini, Haryanto Sahari menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Bukit Barisan Indah Prima sejak September 2011, Anggota Komite Audit di Universitas Indonesia sejak November 2016 dan PT Unilever, Tbk. sejak Oktober 2016.

Dewan pengawas SWF sesuai aturan terdiri dari 2 orang Menteri yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir dan 3 perwakilan profesional.

"Tiga nama itu yang dipilih Presiden sebagai calon Dewas Independen LPI. Maka sesuai dengan aturan dan mekanisme bahwa Presiden berkirim surat untuk melakukan rapat konsultasi dengan DPR. Sehingga hari ini kami menerima Pansel beserta tiga orang calon anggota Dewas Independen itu" ujar Ketua DPR Puan Maharani, yang didampingi Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsudin, Rachmat Gobel, serta Muhaimin Iskandar.

Besar kemungkinan penurunan ini lantaran aksi jual bersih asing di saham-saham ini untuk profit taking. Saham WSKT dilepas asing Rp 675 juta, ADHI dilepas Rp 3 miliar, PTPP juga net sell Rp 3,65 miliar, dan WIKA sendirian yang beli bersih asing Rp 350 juta.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading