Tenang! Harga Batu Bara Masih Aman di US$ 90/ton Kok

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
15 January 2021 11:30
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) kembali mewujudkan komitmennya dalam upaya hilirisasi dan peningkatan nilai tambah pertambangan batu bara. Salah satunya adalah dengan memproduksi karbon aktif dari bahan baku batu bara.

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kontrak futures (berjangka) batu bara termal Newcastle menguat lagi pasca terkoreksi pada perdagangan kemarin, Kamis (14/1/2021). Namun kenaikan harga batu bara kali ini tipis saja.

Harga kontrak yang berakhir Februari 2021 itu menguat 0,17% ke level US$ 89,8/ton. 


Kenaikan harga batu bara dipicu oleh ketatnya pasokan batu bara di China yang membuat harganya melonjak. Di saat yang sama China juga sedang memasuki periode musim dingin dan mendekati momentum perayaan Tahun Baru Imlek Februari nanti.

Kebutuhan akan listrik yang tinggi untuk penghangat ruangan baik di segmen rumah tangga hingga kebutuhan industri tidak mampu dicukupi. Alhasil pemerintah China membatasi pasokan listriknya dengan melakukan pemadaman di berbagai wilayah dan meminta masyarakat untuk menghemat listrik.

China pun akhirnya melonggarkan kebijakan impornya. Namun karena hubungan yang retak, China memilih mengimpor lebih banyak batu bara termal asal Indonesia dan memboikot batu bara yang diekspor dari Australia. Ini jelas menjadi sentimen positif bagi emiten batu bara nasional.

China diperkirakan akan membeli batu bara Indonesia senilai US$ 1,47 miliar atau sekitar Rp 20,6 triliun (asumsi kurs Rp 14.100 per US$) pada 2021.

Hal tersebut berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) antara Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia ( APBI ) dengan China Coal Transportation and Distribution yang ditandatangani pada Rabu (25/11/2020).

Seolah bertukar pasar, kini Indonesia jadi pemasok batu bara China dan Australia mengambil alih pasar India. China dan India merupakan dua negara dengan konsumsi batu bara terbesar di dunia.

Impor China dari Indonesia melonjak menjadi 12,19 juta ton pada Desember, melampaui rekor sebelumnya 10,47 juta pada April 2019, dan naik hampir tiga kali lipat dari 4,3 juta yang tercatat pada November.

Impor India dari Australia mencapai 6,24 juta ton pada Desember, naik dari 5,06 juta pada November dan 5,48 juta pada Oktober, dengan ketiga bulan terakhir ini mengalahkan rekor tertinggi sebelumnya sebesar 4,81 juta dari Desember 2019.

Impor India dari Indonesia mencapai 5,65 juta ton pada bulan Desember, di bawah volume dari Australia, dan turun dari 5,82 juta pada bulan November dan 6,75 juta pada bulan Oktober.

Perlu dicatat bahwa sebagian besar ekspor batu bara Australia ke India adalah batu bara metalurgi atau kokas yang banyak digunakan untuk produksi baja.

Namun berdasarkan data pelacakan kapal, terjadi peningkatan volume impor batu bara termal juga. Kemungkinan besar ini sebagai akibat dari penambang Australia yang mencari pasar baru untuk menggantikan pengiriman yang hilang ke China.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading