Setelah ANTM, Giliran TINS Diserbu Investor Hari Ini

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
14 January 2021 15:45
Laba PT Timah Naik 6% di 2018 (CNBC Indonesia TV) Foto: Laba PT Timah Naik 6% di 2018 (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah melesat pada pekan lalu, hari ini saham emiten nikel PT Timah Tbk (TINS) kembali melesat hingga mencapai 21,56% ke level Rp 2.340/saham. Melesatnya saham TINS disebabkan dari masih menguatnya harga nikel hingga saat ini.

Selama sepekan terakhir, saham TINS sudah menguat 28,37% dan selama 3 bulan terakhir, saham TINS telah melesat hingga 242,65%.

Nilai transaksi saham TINS hari ini mencapai Rp 1,4 triliun dengan volume yang diperdagangkan sebanyak 632,8 miliar.


Namun kali ini bukan asing yang memborong, melainkan investor domestik hingga mencapai 47,4%. Investor asing melakukan net sell di saham TINS sebesar Rp 26 miliar di pasar reguler.

Nikel sendiri merupakan salah satu logam hasil tambang yang digunakan untuk berbagai keperluan. Di pasar dikenal ada dua jenis nikel yaitu nikel kelas I dan kelas II.

Nikel kelas II banyak digunakan untuk pembuatan stainless steel, sementara kelas I digunakan untuk produk lain seperti komponen baterai mobil listrik.

Sentimen makin maraknya penggunaan mobil listrik dan tren penjualan mobil listrik yang meningkat membuat harga nikel mengalami kenaikan yang pesat.

Selain itu, Permintaan yang tinggi dari produsen stainless steel yang menyumbang sekitar dua pertiga dari permintaan nikel global yang diperkirakan sekitar 23 juta ton tahun lalu. Permintaan yang kokoh membuat harga terdongkrak.

Namun kenaikan produksi NPI Indonesia diperkirakan bakal menurunkan harga nikel. Produksi NPI Indonesia diperkirakan naik antara 690.000 hingga 800.000 ton tahun ini.

Sebelumnya, kekurangan bijih nikel akan diperparah oleh musim hujan di Filipina, yang kemungkinan akan mengganggu pasokan hingga setidaknya Januari 2021.

Itulah mengapa harga nikel bisa reli tak terhenti. Di sisi lain outlook bullish adanya periode super-cycle commodity setelah pandemi Covid-19 dan diperkirakan bakal membuat harga komoditas tambang ini melesat dan tembus US$ 20.000/ton.


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading