Kasus Covid-19 di China Melonjak, Harga Minyak Terkoreksi

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
14 January 2021 10:47
FILE PHOTO: A pump jack operates in the Permian Basin oil production area near Wink, Texas U.S. August 22, 2018. Picture taken August 22, 2018. REUTERS/Nick Oxford/File Photo Foto: Ilustrasi produksi minyak (REUTERS/Nick Oxford)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kontrak futures (berjangka) minyak mentah mengalami koreksi pada perdagangan hari ini, Kamis (14/1/2021). Kenaikan kasus Covid-19 di berbagai penjuru dunia masih menjadi ancaman utama terhadap permintaan dan harga minyak.

Harga kontrak Brent turun 0,32% ke US$ 55,88/barel sementara kontrak West Texas Intermediate (WTI) terpangkas 0,26% ke US$ 52,77/barel.


Pemerintah di seluruh Eropa mulai menerapkan pengetatan seiring dengan lonjakan kasus infeksi virus Corona varian baru yang menyebar dengan cepat pertama kali terdeteksi di Inggris. Kebijakan tersebut diambil karena vaksinasi diperkirakan tidak akan banyak membantu selama dua hingga tiga bulan ke depan.

Beralih ke China, setelah sekian lama mencatatkan kasus harian Covid-19 yang rendah, China kembali mengalami lonjakan kasus belakangan ini.

Pada hari Rabu, Komisi Kesehatan Nasional melaporkan total 115 kasus baru yang dikonfirmasi di daratan, dibandingkan dengan 55 hari sebelumnya, peningkatan harian tertinggi sejak 30 Juli. Dikatakan 107 dari kasus baru adalah infeksi lokal.

Sebagian besar kasus baru dilaporkan di dekat ibu kota, Beijing, tetapi sebuah provinsi di timur laut jauh juga mengalami peningkatan infeksi. Hebei, provinsi yang mengelilingi Beijing, menyumbang 90 kasus, sementara provinsi Heilongjiang timur laut melaporkan 16 kasus baru.

Kenaikan kasus Covid-19 yang signifikan membuat China kembali memutuskan untuk mengetatkan langkah-langkah pembatasan sosial. Setidaknya tiga kota di Provinsi Hebei yakni Shijiazhuang, Xingtai dan Langfang dikarantina (lockdown).

Sementara itu Beijing juga meningkatkan kewaspadaan melalui skrining untuk mencegah terbentuknya klaster di wilayah tersebut. Gelombang infeksi kemungkinan akan meredam liburan Tahun Baru Imlek bulan depan, ketika ratusan juta orang biasanya melakukan perjalanan ke kota asal mereka.

Jauh lebih sedikit yang diperkirakan akan melakukan pekerjaan tahun ini, dan banyak provinsi telah meminta pekerja migran untuk tetap tinggal selama liburan.

"Lonjakan kasus besar-besaran tidak mungkin terjadi selama liburan jika tindakan pengendalian dan pencegahan diterapkan dengan benar", kata Feng Zijian, wakil direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, sebagaimana diwartakan Reuters.

Pada dasarnya lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di China patut untuk dicermati mengingat di negara tersebut wabah Covid-19 mulai merebak di awal. 

Dengan terus terjadinya kenaikan kasus di banyak negara permintaan minyak bisa tertekan. OPEC dalam laporan bulanannya pada Desember lalu memproyeksikan permintaan minyak hanya akan naik 5,9 juta barel per hari (bph) direvisi turun sekitar 300 ribu bph dari laporan bulan sebelumnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading