Kena Profit Taking, Harga Emas Longsor Gaes

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
07 January 2021 09:52
FILE PHOTO: Gold bullion is displayed at Hatton Garden Metals precious metal dealers in London, Britain July 21, 2015. REUTERS/Neil Hall/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia melorot tajam pada penutupan perdagangan kemarin. Harga emas sebelumnya mendekati level psikologis US$ 1.950/troy ons. Namun kini logam mulia tersebut ditransaksikan di bawah US$ 1.920/troy ons.

Kemarin harga emas turun 1,57%. Hari ini Kamis (7/1/2021) harga logam kuning tersebut lanjut melemah dengan penurunan 0,15% dari posisi kemarin. Pada 09.15 WIB, harga emas di arena pasar spot dibanderol di US$ 1.915,9/troy ons.


Penurunan tajam harga emas akibat aksi ambil untung para trader setelah harga emas melesat tajam belakangan ini. Hasil pemilihan Senat di Georgia mengindikasikan bahwa peluang Partai Demokrat menang tinggi.

Apabila Demokrat menguasai Senat maupun DPR AS, maka kebijakan seperti kenaikan pajak hingga belanja negara yang lebih besar lewat stimulus bakal lebih mudah untuk diloloskan. Adanya kemungkinan stimulus baru berpotensi membuat harga emas mengalami kenaikan. 

Laporan ketenagakerjaan nasional ADP untuk bulan Desember menunjukkan penurunan pekerjaan yang sangat besar setelah diperkirakan mengalami kenaikan moderat. Laporan ini adalah pendahulu dari Laporan Situasi Ketenagakerjaan yang lebih penting yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja pada hari Jumat pagi.

Tingkat pengangguran di AS diperkirakan berada di 6,8% dan penciptaan lapangan kerja non-pertanian naik 50.000 pada Desember, dibandingkan kenaikan 245.000 pada November. Dengan tingkat pengangguran yang masih tinggi, ada kemungkinan perekonomian di AS masih membutuhkan stimulus. 

Tren pelemahan dolar AS juga diperkirakan bakal berlanjut hingga tahun ini. Hampir 50% responden yang disurvei Reuters berpandangan bahwa pelemahan dolar AS bakal terjadi dalam jangka waktu lebih dari 1 tahun.

Dolar AS dan emas bergerak berlawanan. Artinya ketika dolar AS melemah harga emas cenderung menguat, begitupun sebaliknya. 

Suku bunga rendah, injeksi likuiditas ke sistem keuangan melalui quantitative easing (QE), stimulus fiskal jumbo, pelemahan dolar AS hingga imbal hasil riil obligasi pemerintah AS yang sudah jatuh ke teritori negatif hingga ekspektasi inflasi yang tinggi menopang fundamental emas.

Kendati fundamental si logam mulia tersebut kuat, tetapi emas punya pesaing baru. Namanya Bitcoin. Ketika emas terjungka dari level tertingginya di bulan Agustus, harga Bitcoin justru reli dan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Ada outflow besar-besaran senilai US$ 7 miliar dari aset berbasis emas berupa exchange traded fund (ETF). Di saat yang sama ada inflow ke aset yang berbasis Bitcoin senilai US$ 3 miliar.

Investor institusi mulai terbiasa dengan gagasan bahwa Bitcoin telah menjadi salah satu aset alternatif untuk lindung nilai dari inflasi yang tinggi dan pelemahan dolar AS. Harga Bitcoin bahkan menyentuh US$ 30.000.

Bank investasi global menyebut harga Bitcoin bisa tembus US$ 146.000 atau setara Rp 2,03 miliar (asumsi kurs Rp 13926.55/US$). Namun tak akan terjadi dalam waktu yang singkat. Butuh waktu bertahun-tahun dan berkompetisi dengan emas untuk menjadi salah satu alternatif nilai tukar.

Harga Bitcoin yang sudah tembus level tertingginya di awal tahun rawan mengalami koreksi. Sehingga target US$ 146.000 yang dipatok oleh JP Morgan itu merupakan target jangka panjang.

Ketika harga Bitcoin jatuh dan koreksi juga terjadi di pasar saham, maka tak menutup kemungkinan uangnya beralih ke aset berupa emas sehingga akan mengerek naik harganya seperti beberapa waktu belakangan ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading