CNBC Indonesia Award

Jahja Setiaatmadja Raih The Most Influential Leader 2020

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
10 December 2020 20:49
The Most Influential Leader Jahja Setiaatmaja. (Tangkapan layar CNBC TV)

Jakarta, CNBC Indonesia- Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiaatmadja meraih gelar The Most Influential Leader 2020 di ajang CNBC Indonesia Award 2020.

Apresiasi dari CNBC Indonesia ini diterima secara virtual oleh Jahja Setiaatmadja pada malam Penganugerahan CNBC Indonesia Award 2020 bertema "Menyongsong Bangkitnya Ekonomi Indonesia 2021" di Auditorium Menara Bank Mega Jakarta Selatan pada Kamis, (10/12/2020).

Dalam kajian dari Tim Riset CNBC Indonesia, sempat dipelesetkan sebagai "Bank Capek Antri" lebih dari 1 dekade lalu, PT Bank Central Asia Tbk sukses mengubah layanannya 180 derajat dengan keunggulan mobile-banking, dan bahkan menggarap bank digital yang dijamin "bebas antri."


Keberhasilan perseroan mengubah imaji dan layanannya kepada publik itu berujung pada kuatanya loyalitas nasabah hingga emiten berkode saham BBCA tersebut terus membukukan kinerja positif, sehingga menjadi idola publik di bursa.

Wajar saja saham BBCA menjadi favorit para pemodal, demi melihat pertumbuhan kinerjanya yang fantastis. Terakhir per September 2020, perseroan mencetak pendapatan bersih Rp 14,9 triliun, dengan laba bersih Rp 20 triliun atau bertahan dari capaian setahun lalu Rp 20,9 triliun.

Per September, BCA bahkan mencetak aset senilai Rp 1.003 triliun, atau pertama kali menembus angka psikologis 1.000. Padahal, pada periode yang sama bank-bank lain, baik swasta maupun BUMN, mengalami tekanan laba bersih akibat resesi ekonomi dan krisis pandemi.

Oleh karenanya, saham perseroan menjadi yang paling banyak dipegang investor di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sehingga kapitalisasi pasarnya melesat menjadi yang teratas secara nasional, yakni senilai Rp 787 triliun, mengalahkan bank-bank BUMN.

Market capitalization tersebut setara dengan 12% dari total kapitalisasi pasar di bursa, dan sepanjang tahun berjalan tercatat hanya turun 2,5% (per 7/12/2020) meski pada periode yang sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terhitung anjlok 5,85%.

Di balik kinerja positif tersebut, ada tangan dingin Jahja Setiaatmadja selaku Direktur Utama BCA. Menjabat posisi puncak di bank swasta tersebut sejak tahun 2011, pria kelahiran Jakarta, 14 September 1955, inilah sosok kunci di balik perubahan drastis kualitas layanan BCA.

Dialah yang tokoh kunci di balik keberhasilan BCA menjadi bank teratas nasional yang fokus pada bisnis transaksi (transaction banking) dan secara bersamaan menyediakan fasilitas kredit serta solusi keuangan bagi segmen korporasi, komersial, UKM (Usaha Kecil dan Menengah) dan konsumer.

Untuk membuat nasabah betah dan tak "capek antri", perseroan telah membangun berbagai layanan transaksi elektronik sejak tahun 2000, mulai dari Debit BCA, Tunai BCA, internet banking KlikBCA, mobile banking m-BCA, EDCBIZZ, dan e-money Flazz.

Keunggulan membangun transaction banking tersebut, terbukti dengan besarnya rasio dana murah (current account saving account/CASA) yang per September mencapai 76,4% dari total dana pihak ketiga (DPK) perseroan.

Kepiawaian Jahja sebagai dirigent BCA berujung pada 23 juta rekening nasabah dan transaksi sekitar 30 juta kali setiap harinya, didukung oleh 1.251 kantor cabang, 17.360 ATM, serta layanan internet & mobile banking dan contact center Halo BCA yang dapat diakses 24 jam.

Merengkuh Milenial, Memimpin Tanpa Amarah
Jahja telah mendedikasikan 30 tahun karirnya bersama BCA, ketika bergabung pertama kali pada 1990 sebagai Wakil Kepala Divisi Keuangan. Padahal, di perusahaan sebelumnya, Jahja telah menduduki posisi strategis sebagai Direktur Keuangan PT Indomobil Sukses International Tbk (1989-1990) dan PT Kalbe Farma Tbk (1980-1989).

Butuh 6 tahun bagi Jahja untuk dipromosikan di BCA, kala itu sebagai Kepala Divisi Treasury. Sewaktu krisis menerpa, Jahja baru diberi amanat besar dan menantang sebagai direktur, tatkala BCA berada di bawah Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Posisi sebagai direktur tersebut terus diemban pria ini hingga ia dipercaya menjadi Wakil Presiden Direktur BCA (2005-2011), dan kemudian menjadi Direktur Utama BCA sejak 2011 sampai dengan sekarang.

Selama berkarir di BCA, Jahja menyatakan bahwa dirinya tidak pernah sekalipun melampiaskan amarah kepada anak buah atau rekan kerja, meski menghadapi tekanan dan kondisi yang tidak ideal.

"Sejak 1990 belum pernah saya marah atau memaki orang... Saya merasa saya orang yang cukup santai. Dengan tim kita cukup berinteraksi secara normal, tidak ada suatu batasan anak buah dan bos," kata dia kepada CNBC Indonesia (4/2/2019).

Dia juga dikenal gemar melakukan ice breaking di sela-sela kebiasaan bekerja 12 jam sehari. Karakter inilah yang membuatnya dekat dengan milenial, dan membuka cakrawalanya dalam memandang dinamika atau perubahan digital di masyarakat.

Di tangan Jahja, BCA melakukan beberapa aksi konsolidasi, salah satunya yang paling strategis adalah dengan membeli PT Bank Royal Indonesia tahun lalu, dan menyulapnya menjadi PT Bank Digital BCA, yang bakal diluncurkan pada akhir tahun ini.

Hal ini merupakan keputusan strategis, karena BCA sendiri selama ini menemukan kenyataan bahwa permintaan layanan digital terus meningkat, yang mengindikasikan besarnya preferensi masyarakat untuk menuju ke sana terutama di tengah pandemi.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading