Kreditor INDY Setuju Amandemen Perjanjian Obligasi Rp 8 T

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
10 December 2020 10:57
Dok: Indika Energy

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemegang surat utang anak usaha emiten pertambangan batu bara Grup Indika, Indika Energy Capital III Pte. Ltd memberikan persetujuan terkait amandemen obligasi dengan denominasi dollar senilai US$ 575 juta atau setara Rp 8,12 triliun.

Indika Energy Capital III Pte. Ltd sebelumnya telah mengajukan consent of solicitation atas obligasi yang akan jatuh tempo pada 9 November 2024 mendatang. Nilai pokok obligasi tersebut senilai US$ 575 juta dengan kupon sebesar 5,87%.

Adapun, batas waktu pemegang obligasi menyerahkan persetujuannya paling lambat 5.00 PM, waktu New York pada 4 Desember 2020 atau pada tanggal penutupan.


"Pada saat tanggal penutupan, penerbit telah mendapat persetujuan atas permohonan persetujuan (consent solicitation) sebesar kurang lebih 85,9% dari pemegang obligasi," kata manajemen Indika Energy, dalam pengumumannya di laman keterbukaan informasi BEI, Kamis (10/12/2020).

Pemegang obligasi yang memenuhi syarat akan menerima kompensasi tunai sebesar US$3 per US$1.000 jumlah pokok obligasi kepada setiap pemegang surat utang yang telah memberikan persetujuan yang sah untuk mendukung amandemen yang diusulkan. Pengumuman ini juga sudah disampaikan di keterbukaan informasi Bursa Efek Singapura.

Tujuan dari amandemen tersebut adalah permohonan untuk menyesuaikan sejumlah ketentuan dengan surat utang yang belum lama ini diterbitkan entitas usaha INDY yakni Indika Energy Capital IV Pte Ltd.

Perseroan menunjuk Deutsche Bank untuk terkait amandemen persetujuan ini. Sedangkan, proses tabulasi dan distribusi informasi oleh Morrow Sodali Ltd.

"Dengan telah disetujuinya consent solicitation oleh para pemegang surat utang 2024, maka perubahan-perubahan tersebut akan memberikan fleksibilitas kepada perseroan," urai INDY lebih lanjut.

Sebelumnya, Indika Energy telah menyelesaikan penerbitan surat utang dalam denominasi dollar senilai US$ 675 juta atau setara Rp 9,83 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.570 per dollar AS.

Rencananya, dana dari penerbitan global bond ini akan dipakai untuk membiayai kembali utang (refinancing) senilai US$ 500 juta yang diterbitkan Indo Energy Finance II B.V. Surat utang dengan bunga sebesar 6,37% itu akan jatuh tempo pada 2023 mendatang. Selain itu, perseroan juga berencana mendiversifikasi bisnisnya di luar bisnis pertambangan batu bara.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading